POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

“Triple Faults” Kebijakan dan “Gol Bunuh Diri”

RedaksiOleh Redaksi
June 13, 2021
🔊

Dengarkan Artikel

 

Oleh Ahmad Rizali

Berdomisili di Depok

Dalam tulisan saya berjudul “Triple Foults” Kebijakan Pendidikan Nasional, jelas terpampang bahwa pemerintah Indonesia faham tentang jebloknya kompetensi sains, numerasi dan membaca siswa Indonesia yang digadang gadang akan menjemput Bonus Demografi karena jelas terutulis di “baseline” RPJMN Pendidikan Indonesia dan Renstra Kemdikbud dan selama 5 Tahun hingga 2024 tertulis juga target capaian. Ukurannya jelas. Jika target tercapai, Mendikbud dan Presiden sukses. 

PISA, RISE-Smeru, INAP/AKSI Kemdikbud dan AusAid Kemenag sudah dengan akurat mengukur kompetensi itu dan hasilnya saling mendukung dan karena pandemi, PISA tidak melakukannya di Tahun 2021 ini, namun karena selain penyakit lama belum “diobati”, kena lagi penyakit baru, pandemi. Sehingga, semua orang waras pasti akan setuju jika “suhu tubuh” diukur maka hasilnya akan memburuk. Namun, apakah kita menjadi panik ? Tidaklah.

Indonesia justru segera akan melakukan uji atau asesmen yang sama persis dengan uji sebelumnya dalam bentuk AKM (Asesmen Kompetensi Minimal). Yang akan dihasilkan nanti adalah hasil seperti pengukuran sebelumnya dan jelas memburuk. 

Saya membayangkan. Sikap ini seperti seorang kawan yang hidup di pedalaman Papua dan putranya sedang sakit, namun yang bisa dan sedang dilakukan terus menerus adalah mengetahui keparahan sakit si putra dengan suhu semakin naik dari normal, namun tak melakukan upaya penyembuhan. 

📚 Artikel Terkait

Untukmu, Para Bunda..

Takut Tidak Dapat Kerja?

Kenangan Masa Kecil di Desa: Tradisi yang Mulai Hilang

Ketika Guru SD Berteman dengan Teknologi: Belajar, Berkarya, dan Menginspirasi

Jika kondisi Indonesia seperti kawan itu yang tak berdaya, bolehlah kita maklum, namun ini Indonesia yang memiliki ratusan Guru Besar bidang Pendidikan. Atau, ibaratnya seperti warga tajir Jakarta sedang sakit dan di sekelilingnya dipenuhi ratusan RS dan ribuan dokter hebat, namun tak bergerak dan hanya sibuk mengukuri suhu pasien dan sesekali memberinya parasetamol.

Jika kebijakan pendidikan pemerintah Indonesia toh akhirnya menyelenggarakan AKM dan menemukan hasilnya, semakin memburuk, so what gitu?  Buat saya, jika guru SD/MI sebagai garda depan “penyembuhan” tak segera dibekali cara mengajar yang benar di kelasnya, maka kita sedang dengan sengaja melakukan upaya “Gol Bunuh Diri”  dan menjadi “Quadruple Faults” menuju kematian.

“Double Faults” dan Pedagogi Konten (2).

Pemerintah yang diwakili Kemdikbud sudah melakukan “double foults” kesalahan ganda, yaitu fokus hanya ke akses di jenjang SD/MI pada periode sebelum pandemi dan di saat pendemi. Padahal sebelum pandemi kinerja membaca (reading) Indonesia di angka 371 jauh dari rerata OECD 480 an disebut “functionally illiterate” dan akan turun sebanyak sekitar 30 point di masa pandemi (WB 2020) sehingga saya menyebutnya “deepest functionally illiterate”. 

Mengapa kesalahan ganda? Karena meski faham bahwa kondisi kinerja murid di jenjang SD/MI buruk, pemerintah tak juga melakukan gebrakan strategis dan berdampak besar seperti ketika Soeharto memutuskan menerbitkan “Inpres SD” guna menaikan angka partisipasi sekolah. Jika enggan menerbitkan regulasi yang akan menghela semua akrivitas, semestinya pemerintah faham bahwa guru kelas jenjang SD/MI wajib dilatih teknik menyampaikan mapel sains, membaca dan matematika dengan benar. Sesuai dengan sifat mapelnya.

Selama ini, yang dilakukan adalah upaya menguatkah pedagogi, menguatkan konten dan membangkitkan spirit menjadi pendidik merdeka. Semua itu tidak salah, namun yang diperlukan guru kelas adalah bagaimana mengajarkan numerasi agar murid faham konsep dan pada akhirnya membentuk nalar, demikian pula sains dan membaca. Inilah yang dalam berbagai literatur saya kutip sebagai Pedagogi Konten.

Melatih Pedagogi Konten bukan urusan mudah. Karena sifat mapel matematika jenjang SD/MI dan mapel Membaca tentu beda, meski otak dan cara kerjanya mirip. Sehingga, cara mengajarkan numerasi (pedagogi numerasi) akan berbeda dengan membaca (pedagogi membaca). Selain mapel IPS, Sejarah, Agama dan Seni Budaya. Karena sulitnya, mungkin, pemerintah mengambil jalan pintas dengan “hanya” melatih guru kelas membuat soal soal HOTS yang diharapkan memicu pembelajaran HOTS dan berakhir pada kenaikan kinerja sains, matematika dan membaca. 

Jika diteruskan, inilah “Triple Foults” pemerintah Indonesia di bidang Pendidikan dan rasanya sudah terjadi, maka mohon maaf, saya hanya bisa mengatakan “hopeless” kepada kebijakan dan situasi dunia pendidikan saat ini dan saya sudah tak napsu lagi ngobrol tentang kebijakan “Triple Foults” yang adalah “diskualifikasi” mengikuti Liga Era Tahun 2045, 100 Tahun Indonesia Merdeka yang tanpa Bonus Demografi.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 72x dibaca (7 hari)
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 72x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 60x dibaca (7 hari)
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 56x dibaca (7 hari)
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
26 Jan 2026 • 51x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
#Kriminal

Dunia Penuh Tipu: Menyikapi Realitas Penipuan Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 16, 2026
Esai

Melukis Kata itu Seperti Apa?

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Literasi

Melukis Kata, Mengangkat Fakta

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Artikel

Mengungkap Fakta, Melukis Kata Lewat Story Telling

Oleh Tabrani YunisFebruary 14, 2026
Puisi

Gamang

Oleh Tabrani YunisFebruary 12, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    168 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    161 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
57
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
199
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
93
Postingan Selanjutnya

Gunakan Tas Belanja Ramah Lingkungan

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00