POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Syakban

RedaksiOleh Redaksi
April 12, 2018
🔊

Dengarkan Artikel


Sudah dua tahun Syakban mendekam di lapas lantaran tersangkut kasus—yang sudah amat klise di negeri ini—narkoba. Dari kabar yang beredar, dia dijebak oleh temannya sendiri, Bahrun. Mereka berdua cukup terkenal di kampung kami karena jabatan yang disandangnya; Bahrun sebagai asisten pribadi keuchik sementara Syakban sebagai ketua pemuda. Ketika berita itu tersebar, seluruh penduduk desa terkejut—tak percaya perangkat desa mereka terlibat dengan barang haram semacam itu. Keduanya saling menuduh dan menyangkal, membuat keuchik kian geram. “Katakan hal yang sepatutnya ada, Gam. Jangan dilebihkan dan jangan dikurangi.” Syakban terdiam mendengar seringai di ujung kalimat keuchik. Bahrun angkat bicara meskipun tiada seorang pun yang memintanya untuk kembali bersuara. “Demi Allah, saya mendapatkan barang itu dari Syakban, Pak.”
“Diam kau! Sudah cukup bicaramu. Kau tak lebih dari bedebah tak tahu diuntung! Aku tak peduli darimana kau dapatkan barang itu, yang kutahu kau telah membuat tebal mukaku, Run!” Kali ini benar-benar hening. Untuk beberapa hela napas berat yang terdengar dari keuchik sebelum ia pergi, polisi telah memborgol tangan kedua orang tersebut. Syakban pasrah; Bahrun kalut.
***
            “Kenapa tidak jelaskan saja pada mereka, hah?” Rabiah mendesis menahan tetes air di ujung pelupuk matanya. Syakban masih terdiam, tatapannya kosong seperti orang linglung. “Kenapa diam, Bang? Abang memang pengedar? Bukan, kan? Kalau begitu, jelaskan pada mereka bahwa Abang dijebak oleh bedebah itu! Jangan diam saja, memangnya Abang bisu?” tak puas hati Rabiah melihat tak ada tanggapan dari suaminya. “Kau tahu, Dik? Jujur pun akan kalah jika barang bukti tersangkut di badan walau tiada niatan hati untuk membawa. Sekarang ini, dengan kertas orang bisa dipenjara; dengan kertas orang bisa berlenggang bebas dari bui; dengan kertas semua bisa dilakukan. Dan kertas panggilan polisi untuk Abang telah dilayangkan, maka sepatutnya Abang masuk bui, walaupun tiada kesalahan yang cukup untuk membawa Abang kemari.” Deras sudah air mata keluar membasahi pipi merah Rabiah.
            “Shh, jangan menangis, Dik. Nanti apa kata Dara jika melihat matamu memerah?” hati Syakban meringis, ingin didekapnya tubuh gemetar itu namun jeruji besi menghalanginya. Ia harus tetap tegar di tengah kegetirannya, tetapi jika harus mengingat anak perempuannya yang masih berusia lima tahun itu batinnya mengutuk-ngutuk si pemfitnah, Bahrun. “Sekarang pulanglah, masaklah untuk Dara makanan yang enak-enak, biar hilang sedikit rasa susahnya karena ayahnya telah dibawa polisi.” Ada senyum getir menggantung di ujung kalimatnya, namun Rabiah tak ingin melihatnya lebih lama dan memutuskan untuk pulang.
            Oleh sipir, Syakban diperlakukan sewenang-wenangnya sementara untuk penghuni sel sebelah ia berbaik hati memberikan pelayanan. Hal itu telah menjadi pengamatan Syakban di setiap pagi hingga ke petang. Menurut hematnya, ada yang tak beres dengan si sipir; namun ia tak ingin berburuk sangka.
            Suatu hari, sang sipir menghampiri Syakban dengan wajah yang cukup ramah. “Gam, kau tahanan yang tersangkut kasus narkoba dengan si Bahrun itu, kan?” Syakban diam mendengar tuduhan yang sudah biasa didengarnya. “Sudahlah, jangan mengelak lagi. Kau bisa menipu istri dan anakmu, tapi aku tak bisa kau bohongi. Pakai ataupun tidak, tapi kau terlibat. Bukan begitu?”
            “Apa maumu, sobat?” Syakban tahu persis ada hal yang diinginkan oleh si sipir. Senyum licik langsung menghiasi wajah si sipir. “Kau kasihan pada anakmu, kan?” Mata Syakban langsung terbuka, tubuhnya yang lemah kembali sigap siap untuk menerima informasi. “Malam ini kau kuizinkan pulang menemui anak-istrimu. Tapi ada satu syarat—” si sipir melirik kiri-kanan untuk memastikan tak ada yang mendengar. “Kau tak boleh mengatakan pada siapapun dan kalau kau berbaik hati, tolong sampaikan paketku ini pada keuchik.” Sipir langsung memberikan amplop cokelat kepada Syakban tanpa menunggu persetujuan darinya. Seperti perkiraan sipir, Syakban tak harus dibujuk lebih lama untuk menyetujui kesepakatan kecil itu. Sayang, keluguannya untuk kesekian kali dimanfaatkan dan membawanya pada perubahan terbesar hidupnya.
***
            Selama dua tahun Syakban dipenjara namun ia selalu dapat dispensasi untuk pulang ke rumah tiap bulannya. Awalnya Rabiah menyambutnya dengan gembira hingga suatu hari tersiar kabar bahwa keuchik bekerja sama dengan Bahrun yang ikut mendekam di lapas. Kabarnya, penangkapan Syakban dua tahun silam merupakan rekayasa Bahrun untuk melindungi tuannya. Keuchik membuat laporan palsu dan terbitlah surat panggilan polisi untuk penangkapan Syakban. Dengan kertas orang bisa dipenjara; dengan kertas orang bisa berlenggang bebas dari bui; dengan kertas semua bisa dilakukan.
            Rabiah menceritakan kabar tersebut kepada Syakban. “Tidak mungkin keuchik seperti itu. Dia orang baik, karena dia Abang bisa pulang menemuimu dan Dara.” Rabiah mengernyitkan kening mendengar jawaban suaminya yang terdengar janggal, namun ia segera menepis pikiran itu. Tidak mungkin Bang Syakban mau diperalat, pikirnya.
***
            Tak butuh waktu lama, akhirnya kabar yang tersiar mengenai skandal keuchikterbukti. Statusnya sebagai keuchiklangsung dinonaktifkan setelah 24 jam penangkapan. Dua hari kemudian, menyusul pula surat dari Syakban kepada Rabiah yang mangatakan bahwa ia tak lagi bisa pulang menemuinya. Semua yang terjadi semakin pelik bagi Rabiah. Ia memutuskan untuk mengunjungi Syakban pekan depan.
            Hari Ahad tiba, Rabiah menumpang becak untung mengunjungi suaminya di lapas dan menanyakan apa yang terjadi. Pikirannya berkecamuk. Ia yakin ada yang tak beres dengan kasus ini, ia yakin suaminya yang baik hati telah diperalat oleh keuchik untuk melindunginya dari skandal memalukan itu. Rabiah ingin segera menyadarkan suaminya agar janga mau diperalat lagi.
            Sesampainya di depan lapas, tak ada sipir sebagaimana biasanya. Ia mengintip ke arah sel yang dihuni oleh suaminya. Kosong. Karena penasaran, ia menelusuri jalur yang membawanya terus ke dalam dan terdengar suara beberapa lelaki sedang tertawa, ia yakin mungkin sipir ada di sana.
            Tebakan Rabiah tak meleset. Sipir memang ada di sana; yang mengejutkan dia berada di dalam sel bersama keuchik yang sedang memegang sebungkus bubuk putih. Dan yang lebih mengejutkan, Syakban juga berada di sana dan memegang bungkus yang sama.[]

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)

📚 Artikel Terkait

Meraih Mahkota Surga

PENOKOHAN DALAM “SAYAP-SAYAP PROKLAMASI” SANGAT MENANTANG

DUKA CIANJUR DUKA KITA

Lolosnya U20 Israel & Pertaruhan Kedaulatan Bangsa Indonesia

📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya

KIDUNG ALAM

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00