POTRET Online
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh
No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh

Terkesimanya Seorang Gadis

RedaksiOleh Redaksi
March 21, 2018
🔊

Dengarkan Artikel


Oleh Febry Ardia Regita Fadli
Mahasiswi Universitas Islam Negeri ( UIN)  Ar-Raniry Banda Aceh
Air mata tak dapat terbendung, ketika aku mengingatnya. Tidak tahu mengapa hati ini terasa sangat sensitif dan lembut, ketika sekilas terlayang tentangnya di benakku. Aku hanyalah seorang gadis yang sangat mengaguminya, begitu mencintainya. Aku tahu sosok itu juga sangat mencintaiku, meski tak pernah tampak begitu jelas di mataku. Aku yakin dia lah cinta abadi yang pernah diciptakan oleh Sang Maha Pencipta. Terkadang ia sering terlupakan olehku, karena aku selalu sibuk dengan urusanku yang hanya secuil daripada urusannya yang bermanfaat untuk semua.
Aku mengagumi lelaki berbadan tegap dan bermata sipit itu. Sampai saat ini aku merasa nyaman selalu dalam dekapannya. Meskipun sekarang pelukan itu tak sesering dulu, dan ciuman kening hanya setahun sekali ku rasakan. Tak masalah selama ia masih dapat ku lihat. Seringkali aku menangis dalam hening, ketika mengingat-ingat peristiwa yang melukai hati karena menahan rindu. Hubungan jarak jauh ini membuatku tak henti merindukannya. Aku ingin selalu di dekatnya. Entah bagaimana ceritanya, aku selalu ingin melihat senyumnya. Yang selalu membuatku terkesima dengan sendirinya. Ia adalah seorang yang tak pernah menampakkan air mata di pipi. Mungkin air mata itu telah membanjiri hati.
                  Lelaki itu sudah 19 tahun bersamaku, menemani hari-hariku yang belum tau arah tujuan hidup. Dia yang mengerti getirnya hidup ini, kejamnya persaingan dalam kehidupan. Lelaki itu adalah ayahku, 19 tahun ya? Hmm.. Aku sering berdoa pada Tuhan agar kebersamaan ini menemani langkahku hingga sukses dan membuatnya menjatuhkan air mata kebanggaan. Ayah adalah orang yang membuatku mengerti arti hidup, walaupun di usia remaja ini komunikasi ku kurang dengan Ayah.
 Namun aku tahu harapannya besar terhadapku. Ia adalah orang yang mengajarkanku tentang keadilan dan kejujuran. Bicara dengan ayah, kebohonganku tak dapat berkutik, seakan mati kutu. Kadang aku merasa dikekang, membuat kebencian menghampiri sekujur tubuh. Aku iri dengan teman-temanku yang bebas bepergian ke mana saja mereka mau dan melakukan apa saja yang mereka inginkan. Seiring bertambahnya usia, aku selalu mencoba memahami mengapa Ayah bersikap begitu. Sekarang aku sadar, Ayah tidak mau gadisnya kenapa-kenapa. Ayah tidak mau anaknya menjadi orang yang tidak berbakti.
                  Selalu ada tanya dalam hati, semua manusia pasti pernah merasakan kesedihan dan menjatuhkan air mata. Lalu, kapan Ayah menangis? Anak tak pernah mengetahui kapan orangtuanya menangis dan sedih. Egoisme menguasai saat aku selalu merengek meminta apa yang aku mau tanpa pernah berpikir terlebih dahulu. Namun, orangtua selalu memberikan kemauan sang anak tanpa memikirkan kemana harus ia cari alat untuk memenuhi kebutuhan anak. Ayah adalah orang yang rela tidak makan untuk anaknya, mendahulukan orang yang ia sayang terlebih dahulu daripada dirinya sendiri. Masih terlukis jelas diingatanku, dulu ayah pernah berkata, “selamatkan dulu orang lain, kalau mereka sudah merasa aman, baru kita urus diri sendiri” dari situ aku sering mendahulukan kesetiaan dibanding dengan egoisme. Hal ini mungkin berbeda dengan kesehatan yang harus kita jaga melalui diri sendiri terlebih dahulu. Tak ada yang dapat mengalahkan kehebatan ayahku, ayah sangat mahir berhitung, menjahit, dan juga memasak. Masakan ayah seringkali membuat aku dan adik-adikku bersenda dengan Ibu.
 Ayah adalah orang yang selalu mengingatkanku tentang pentingnya pendidikan. Dulu, aku ingat Ayah sering bilang “Orang pandai akan kalah dengan orang yang jujur, dan orang yang jujur akan kalah dengan orang yang selalu berusaha”. Aku dan Ayah adalah orang yang sama-sama kurang suka berbicara yang berlebihan, dan tidak mudah menerima orang baru yang belum dikenal. Oleh sebab kesamaan sifat tersebut kami jarang berkomunikasi layaknya curhat dengan Ibu. Ayah lebih akrab dengan adikku yang pertama. Namun begitu bukan berarti aku dapat bertingkah sesuka hati. Sekali ayah bicara, itulah yang selalu aku ingat. Dari ayah aku belajar menjadi perempuan yang tidak cengeng ketika dihadapkan oleh masalah. Dari ayah juga aku belajar menyembunyikan air mata, agar teman-temanku tahu kalau aku adalah orang yang selalu ceria. Terimakasih ayah, yang selama ini telah berjuang membesarkanku, berpeluh hingga bahumu lebam dan mata mu memerah karena kurang tidur hanya untuk mencari nafkah keluarga kecilmu. Sampai kapan pun aku tetap terkesima dengan sosok sepertimu. Meski telah ada pangeran yang akan mendampingi masa dewasa ku kelak, namun Ayah tetap raja dalam hidupku.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bahasa Indonesia yang Bergema di Australia
Bahasa Indonesia yang Bergema di Australia
23 Feb 2026 • 76x dibaca (7 hari)
Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026
Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026
17 Feb 2026 • 71x dibaca (7 hari)
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 68x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 65x dibaca (7 hari)
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 56x dibaca (7 hari)

📚 Artikel Terkait

PENARI KEMATIAN

Perempuan yang Terperangkap Cengkeraman KDRT

Wajah Negeriku

HABA Si PATok

📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
NETWORK POTRET
ANAK CERDAS
Artikel terbaru
Buka Majalah Anak Cerdas →
#Pendidikan

Membangun Kemampuan Meneliti Para Siswa SMA

Oleh Tabrani YunisMarch 8, 2026
POTRET Utama

Generasi Indonesia Emas  Kehilangan Bonus

Oleh Tabrani YunisMarch 5, 2026
Catatan Perjalanan

Melihat Timor Leste Menikmati Kemerdekaannya

Oleh Tabrani YunisFebruary 23, 2026
Budaya Menulis

Memadukan Storytelling Lewat Melukis Kata dengan Foto Jurnalistik

Oleh Tabrani YunisFebruary 22, 2026
Pendidikan

Degradasi Nilai Kemampuan Afektif yang Mengerikan di Era Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 21, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    170 shares
    Share 68 Tweet 43
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    163 shares
    Share 65 Tweet 41
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
149
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
211
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
97
Postingan Selanjutnya

Kopi, Bisakah Ia Kembali?

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami
  • Al-Qur’an

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00