POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Ayo Bersepeda!

RedaksiOleh Redaksi
March 2, 2017
🔊

Dengarkan Artikel

 
Oleh: Dina Triani GA (Writer/Bicycle lover-Banda Aceh)

Siapa yang tidak tahu sepeda? Dari kecil kita sudah diperkenalkan kendaraan beroda dua atau tiga, yang mempunyai setang, tempat duduk dan sepasang pengayuh yang digerakkan kaki untuk menjalankannya itu. Menurut sejarah nenek moyang, sepeda diperkirakan berasal dari Perancis. Berawal sejak tahun 1816, tahun tanpa musim panas, banyak kuda mati akibat suhu menjadi sangat dingin karena letusan gunung Tambora di Indonesia, tepatnya di pulau Sumbawa pada tahun 1815. Ini adalah erupsi yang paling dahsyat sepanjang sejarah. 

Abu dan sulfur yang dihasilkan menyebabkan gagal panen di Eropa. Sementara kuda-kuda mati karena kelaparan. Meski sepeda berasal dari Perancis, namun Baron Karls Drais von Sauerbronn pantas dicatat sebagai seorang asal Jerman yang menyempurnakan alat transportasi roda dua untuk menunjang efisiensi kerjanya.

Seperti kendaraan lainnya, sepeda juga mempunyai bermacam nama dan model. Pengelompokkan biasanya berdasarkan fungsi dan ukurannya, seperti sepeda onthel, sepeda gunung, sepeda jalan raya, sepeda BMX (bicycle moto-cross), sepeda kota (citybike), sepeda mini, sepeda lipat, sepeda balap dan sepeda motor. Di Indonesia alat transportasi sederhana itu dikenal dengan sebutan kereta angin.

Bersepeda merupakan kegiatan rekreasi atau olahraga dan salah satu moda transportasi. Meskipun bersih dan ramah lingkungan, bersepeda hanya populer di sejumlah negara saja. Masyarakat Indonesia merupakan masyarakat yang enggan memilih sepeda sebagai alat transportasi. Faktor utama yang menyebabkan rendahnya tingkat bersepeda bisa jadi karena kebanyakan orang merasa tidak aman berbagi tempat dengan jalan yang penuh dengan mobil, motor dan angkutan umum yang bergerak cepat. Sementara kota modern telah merancang untuk kendaraan, apakah itu jalan di rumah atau tempat parkir di jalan pusat kota tanpa menganggu pengguna sepeda. Di Indonesia jalan tidak memiliki jalur khsusus untuk sepeda, sementara pesepeda harus menghindari kendaraan di parkiran serta mobil yang melintas dalam kecepatan tinggi.

Di Belanda, 27% aktivitas masyarakat untuk bepergian menggunakan sepeda dan 25% orang pergi ke tempat kerja menggunakan sepeda. Rata-rata penggunaan sepeda/orang sekitar 2.5 Km. Sepeda di kota Amsterdam merupakan alat transportasi yang paling populer. Kota ini juga merupakan kota paling bersahabat bagi pengendara sepeda. Kemana arah mata memadang, di sanalah orang mengayuh sepeda. Uniknya peseda di sana tidak perlu menggunakan helm, karena minimnya kecelakaan.

Sementara di Belgia, masyarakatnya sangat serius merawat sepedanya. Mereka rajin mengecek kualitas ban, fungsi rem, pakaian bersepeda, kaca mata, sarung tangan dan juga helm untuk keselamatan. Aktivitas masyarakat di sana 8% bepergian menggunakan sepeda dan rata-rata orang naik sepeda sekitar 1 Km/hari.

📚 Artikel Terkait

Kartel Narkoba, Kekuasaan Politik, dan Ancaman Terhadap Kedaulatan Negara

Meneladani Semangat Juang Para Pahlawan

UNTUK APA GELAR?

BERJUTA SEPEDA DAN LINGKUNGAN

Cara pemerintah Swiss sepertinya patut dijadikan contoh, karena pemerintahnya mendorong warganya untuk bepergian dengan menggunakan sepeda. Salah satu slogan populernya adalah Bike to Work. Sekarang ini, sekiat 5% seluruh aktivitas warga sudah menggunakan sepeda dan 10% karyawan pergi ke kantor dengan mengendarai sepeda.

Beda kota, beda kebiasaan. Di Swedia orang bepergian dengan sepeda sebanyak 9%. Bagi masyarakat di sana, sepeda sama pentingnya dengan punya televisi. Bahkan ada yang menganggap sepeda lebih penting dari pesawat televisi. Jadi jangan heran jika banyak orang di sana bisa punya lebih dari satu sepeda di garasinya.

Dari semua negara, mungkin Turki yang paling menarik. Sebuah kota bernama Dar Al Ifta melakukan kampaye “Rajinlah ke Masjid dan dapatkan sepeda!” Pihak urusan agama di kota itu tengah menjalankan program untuk memotivasi kalangan muda agar giat melaksanakan salat di masjid dengan membagi-bagikan 80 buah sepeda kepada anak-anak dari berbagai tingkatan usia. Ini sungguh membanggakan karena sepeda bisa digunakan untuk beribadah juga.

Sama seperti pengendara bermotor, pengendaraa sepeda juga memiliki hak dan kewajiban yang sama di jalan raya. Pengendara sepeda harus patuh terhadap peraturan berlalu lintas. Sepeda harus berhenti pada tanda stop, memberi sinyal dengan tangan jika akan berbelok dan sebagainya.

Sebagai media olahraga, bersepeda ternyata banyak sekali manfaatnya. Selain menyehatkan badan, bersepeda juga menyehatkan jiwa. Sepeda dapat dinikmati oleh berbagai usia, laki-laki maupun perempuan, serta dapat dilakukan di mana dan kapan saja. Manfaat olahraga sepeda diantaranya: Menjaga sistem kekebalan tubuh, otot menjadi kuat, menguatkan sistem kerangka, mencegah timbulnya penyakit tulang belakang dan sakit punggung, mengurasi stres, mencegah penyakit jantung, menurunkan tekanan darah, meningkatkan stamina dan masih banyak manfaat lainnya.

Setelah mengetahui kalau sepeda sudah menjadi budaya di negara-negara lain, ada baiknya budaya bersepeda juga kita galakkan di Indonesia. Memilih sepeda untuk dijadikan alat transportasi harian kita akan mengurangi emisi gas rumah kaca, biaya pemeliharaan jalan serta berkontribusi untuk mencegah kemacetan. Menurut sebuah sumber, bersepeda selama 25 menit setiap harinya, kita mampu menyimpan sekitar 165 kg karbon dioksida selama 1 tahun.

Begitu uniknya sepeda, sampai-sampai banyak tokoh dunia menjadikan sepeda sebagai quote (kutipan). Albert Einstein, seorang ilmuwan fisika teoretis mengungkap: “Life is like riding a bicyle. To keep you balance, you must keep moving,” sementara penulis Israelmore Ayivor menulis: “You are likely to fall when you stop paddling your bicycle. Such is life. As long as you don’t give up, you will never end up failing!” Sedangkan pengarang Charles M. Schulz mengatakan: “Life is like a ten speed bicycle. Most of us have gears we never use.”

Mulai sekarang, tidak ada salahnya kita mencoba naik sepeda. Jika tidak sempat setiap hari, kita bisa mencobanya sekali seminggu. Ayo kita galakkan bersepeda sebagai alat transportasi kemana pun kita pergi. Siap ya! ***(Berbagai sumber)

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya

Kesehatan Pendengaran, Investasi Masa Depan

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00