• Latest

Ayo Bersepeda!

Maret 2, 2017
8a775060-2ffc-40bc-a7c8-7d5eeda6427a

Mengenal Ayu Zhafira, Finalis Miss Norway Berdarah Sumatera Barat

Maret 30, 2026
IMG_0551

Jalan yang Kita Pilih

Maret 30, 2026

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Ayo Bersepeda!

Redaksiby Redaksi
Maret 2, 2017
Reading Time: 4 mins read
585
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook
 
Oleh: Dina Triani GA (Writer/Bicycle lover-Banda Aceh)

Siapa yang tidak tahu sepeda? Dari kecil kita sudah diperkenalkan kendaraan beroda dua atau tiga, yang mempunyai setang, tempat duduk dan sepasang pengayuh yang digerakkan kaki untuk menjalankannya itu. Menurut sejarah nenek moyang, sepeda diperkirakan berasal dari Perancis. Berawal sejak tahun 1816, tahun tanpa musim panas, banyak kuda mati akibat suhu menjadi sangat dingin karena letusan gunung Tambora di Indonesia, tepatnya di pulau Sumbawa pada tahun 1815. Ini adalah erupsi yang paling dahsyat sepanjang sejarah. 

Abu dan sulfur yang dihasilkan menyebabkan gagal panen di Eropa. Sementara kuda-kuda mati karena kelaparan. Meski sepeda berasal dari Perancis, namun Baron Karls Drais von Sauerbronn pantas dicatat sebagai seorang asal Jerman yang menyempurnakan alat transportasi roda dua untuk menunjang efisiensi kerjanya.

Seperti kendaraan lainnya, sepeda juga mempunyai bermacam nama dan model. Pengelompokkan biasanya berdasarkan fungsi dan ukurannya, seperti sepeda onthel, sepeda gunung, sepeda jalan raya, sepeda BMX (bicycle moto-cross), sepeda kota (citybike), sepeda mini, sepeda lipat, sepeda balap dan sepeda motor. Di Indonesia alat transportasi sederhana itu dikenal dengan sebutan kereta angin.

Bersepeda merupakan kegiatan rekreasi atau olahraga dan salah satu moda transportasi. Meskipun bersih dan ramah lingkungan, bersepeda hanya populer di sejumlah negara saja. Masyarakat Indonesia merupakan masyarakat yang enggan memilih sepeda sebagai alat transportasi. Faktor utama yang menyebabkan rendahnya tingkat bersepeda bisa jadi karena kebanyakan orang merasa tidak aman berbagi tempat dengan jalan yang penuh dengan mobil, motor dan angkutan umum yang bergerak cepat. Sementara kota modern telah merancang untuk kendaraan, apakah itu jalan di rumah atau tempat parkir di jalan pusat kota tanpa menganggu pengguna sepeda. Di Indonesia jalan tidak memiliki jalur khsusus untuk sepeda, sementara pesepeda harus menghindari kendaraan di parkiran serta mobil yang melintas dalam kecepatan tinggi.

Di Belanda, 27% aktivitas masyarakat untuk bepergian menggunakan sepeda dan 25% orang pergi ke tempat kerja menggunakan sepeda. Rata-rata penggunaan sepeda/orang sekitar 2.5 Km. Sepeda di kota Amsterdam merupakan alat transportasi yang paling populer. Kota ini juga merupakan kota paling bersahabat bagi pengendara sepeda. Kemana arah mata memadang, di sanalah orang mengayuh sepeda. Uniknya peseda di sana tidak perlu menggunakan helm, karena minimnya kecelakaan.

Baca Juga

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026

Sementara di Belgia, masyarakatnya sangat serius merawat sepedanya. Mereka rajin mengecek kualitas ban, fungsi rem, pakaian bersepeda, kaca mata, sarung tangan dan juga helm untuk keselamatan. Aktivitas masyarakat di sana 8% bepergian menggunakan sepeda dan rata-rata orang naik sepeda sekitar 1 Km/hari.

Cara pemerintah Swiss sepertinya patut dijadikan contoh, karena pemerintahnya mendorong warganya untuk bepergian dengan menggunakan sepeda. Salah satu slogan populernya adalah Bike to Work. Sekarang ini, sekiat 5% seluruh aktivitas warga sudah menggunakan sepeda dan 10% karyawan pergi ke kantor dengan mengendarai sepeda.

Beda kota, beda kebiasaan. Di Swedia orang bepergian dengan sepeda sebanyak 9%. Bagi masyarakat di sana, sepeda sama pentingnya dengan punya televisi. Bahkan ada yang menganggap sepeda lebih penting dari pesawat televisi. Jadi jangan heran jika banyak orang di sana bisa punya lebih dari satu sepeda di garasinya.

Dari semua negara, mungkin Turki yang paling menarik. Sebuah kota bernama Dar Al Ifta melakukan kampaye “Rajinlah ke Masjid dan dapatkan sepeda!” Pihak urusan agama di kota itu tengah menjalankan program untuk memotivasi kalangan muda agar giat melaksanakan salat di masjid dengan membagi-bagikan 80 buah sepeda kepada anak-anak dari berbagai tingkatan usia. Ini sungguh membanggakan karena sepeda bisa digunakan untuk beribadah juga.

Sama seperti pengendara bermotor, pengendaraa sepeda juga memiliki hak dan kewajiban yang sama di jalan raya. Pengendara sepeda harus patuh terhadap peraturan berlalu lintas. Sepeda harus berhenti pada tanda stop, memberi sinyal dengan tangan jika akan berbelok dan sebagainya.

Sebagai media olahraga, bersepeda ternyata banyak sekali manfaatnya. Selain menyehatkan badan, bersepeda juga menyehatkan jiwa. Sepeda dapat dinikmati oleh berbagai usia, laki-laki maupun perempuan, serta dapat dilakukan di mana dan kapan saja. Manfaat olahraga sepeda diantaranya: Menjaga sistem kekebalan tubuh, otot menjadi kuat, menguatkan sistem kerangka, mencegah timbulnya penyakit tulang belakang dan sakit punggung, mengurasi stres, mencegah penyakit jantung, menurunkan tekanan darah, meningkatkan stamina dan masih banyak manfaat lainnya.

Setelah mengetahui kalau sepeda sudah menjadi budaya di negara-negara lain, ada baiknya budaya bersepeda juga kita galakkan di Indonesia. Memilih sepeda untuk dijadikan alat transportasi harian kita akan mengurangi emisi gas rumah kaca, biaya pemeliharaan jalan serta berkontribusi untuk mencegah kemacetan. Menurut sebuah sumber, bersepeda selama 25 menit setiap harinya, kita mampu menyimpan sekitar 165 kg karbon dioksida selama 1 tahun.

ADVERTISEMENT

Begitu uniknya sepeda, sampai-sampai banyak tokoh dunia menjadikan sepeda sebagai quote (kutipan). Albert Einstein, seorang ilmuwan fisika teoretis mengungkap: “Life is like riding a bicyle. To keep you balance, you must keep moving,” sementara penulis Israelmore Ayivor menulis: “You are likely to fall when you stop paddling your bicycle. Such is life. As long as you don’t give up, you will never end up failing!” Sedangkan pengarang Charles M. Schulz mengatakan: “Life is like a ten speed bicycle. Most of us have gears we never use.”

Mulai sekarang, tidak ada salahnya kita mencoba naik sepeda. Jika tidak sempat setiap hari, kita bisa mencobanya sekali seminggu. Ayo kita galakkan bersepeda sebagai alat transportasi kemana pun kita pergi. Siap ya! ***(Berbagai sumber)

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 366x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 329x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 276x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 273x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 204x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Discussion about this post

Next Post

Kesehatan Pendengaran, Investasi Masa Depan

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com