POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Membaca Jejak Gerakan Literasi di Aceh Barat Daya

Tabrani YunisOleh Tabrani Yunis
November 10, 2016
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Tabrani Yunis
Direktur Center for Community Development and Education (CCDE) Banda Aceh
Beberapa waktu lalu, di awal tahun 2016, tepatnya bulan Januari 2016 saya ikut mengikuti dan menyimak berita menarik Aceh Barat Daya (ABDYA). Ya, Kabupaten yang tergolong baru ini sempat menjadi objek pemberitaan berbagai media, cetak, elektronik dan media- online di Aceh. Perhatian sejumlah media ke daerah tersebut karena Pemkab ABDYA) melakukan pencanangan Gerakan Gemar Membaca (GGM) di lapangan Persada Blang Pidie dengan melibatkan ribuan pelajar dari berbagai tingkat dan sejumlah instansi terkait.
Sebagai putra daerah, yang dilahirkan di Kecamatan Manggeng, Kabupaten tersebut, saya ikut merasa bangga dan senang serta layak memberikan apresiasi kepada Pemkab ABDYA atas prakarsa membangun gerakan gemar membaca tersebut. Saya terharu seraya berujar. Alhamdulilah. Saya sadar sekali bahwa pendeklarasian ini merupakan wujud bahwa Pemkab ABDYA sudah menemukan hakikat akar persoalan pendidikan di daerah ini. Ya, sesungguhnya rendahnya kualitas hidup, rendahnya pendidikan, baik kualitas siswa maupun kualitas guru bermuara dari persoalan rendahnya minat baca. Pemkab Abdya mulai sadar bahwa buruknya nilai UN dan hasil UKG guru serta lambannya pembangunan manusia di daerah ini, adalah akibat buruknya minat baca. Nilai UN, hasil rerata UKG dan masih rendahnya IPM adalah fakta yang ada di puncak gunung es. Sementara akarnya yang harus dilakukan transformasi selama ini tidak tampak dan tidak disadari. Pemkab dan Jajaran Dinas pendidikan sebelumnya hanya berperilaku memberikan reaksi terhadap fakta rendahnya kualitas UN, UKG dan yang lahir akibat dari rendahnya budaya baca.
Semoga tidak keliru bila saya mengatakan bahwa Pemkab Aceh Barat Daya sudah mulai terjaga dari tidur. Ya pemkab Abdya sudah menemukan kesadaran baru bahwa sesungguhnya ketertinggalan daerah pantai barat selama ini dibandingkan dengan daerah lain di Aceh adalah karena rendahnya minat baca, bukan saja di kalangan masyarakat umum, tetapi juga di kalangan dunia pendidikan di berbagai tingkatan. Ya, membaca belum menjadi sebuah kebutuhan, walau sebenarnya membaca adalah kebutuhan setiap orang.
Banyak fakta yang dapat dijadikan sebagai bukti rendahnya budaya baca di daerah ini. Salah satunya, apa yang diakui dan dipaparkan oleh kepala Dinas pendidikan Kabupaten ini, Drs. Yusnaidi dalam sambutannya menyebutkan, indonesia, Aceh, bahkan Aceh Barat Daya masih minim dalam bidang membaca. Oleh sebab itu, tidak ada kata terlambat untuk memulai. Untuk itu, melalui gerakan tersebut diharapkan setiap sudut sekolah di Abdya membiasakan anak membaca. Sehingga kegiatan membaca bisa menjadi kesenangan baru bagi anak-anak di Abdya. 
Jadi, pencanangan gerakan membaca di lapangan Persada, Blang Pidie itu, bisa jadi momentum yang sangat bagus untuk mencerdaskan rakyat dan pengelola negara di tingkat lokal. Hmm, kita perlu mengapresiasi inisiatif pemkab Aceh Barat Daya untuk memulai gerakan tersebut. Alasannya sangat logis, karena untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia, kuncinya ada pada kemauan membaca. Membaca itu adalah upaya untuk memperoleh ilmu, ketrampilan dan juga perubahan sikap, perilaku, dan sejenisnya. Dengan membaca, kita akan mampu meningkatkan kualitas literasi yang bukan saja pada tataran bisa mengeja, membaca secara literal, tetapi lebih jauh lagi mampu memahami apa yang dibaca, mampu menganalisis apa yang dibaca dan selanjutnya menemukan solusi dari masalah yang dihadapi serta mampu mengekspresikan kembali atau mereproduksi apa yang sudah dibaca.
Sekali lagi, mari kita apresiasi apa yang sudah dicanangkan oleh pemerintah Kabupetan Aceh Barat Daya tersebut. Tentu saja, deklarasi dan pencanangan itu bukan sebagai bentuk selebrasi untuk mengejar popularitas para penguasa. Ya, bukan pula sebagai kegiatan atau program yang kita kenal sebagai kegiatan yang panas- panas tahi ayam, yang hanya panas sekejab, lalu mendingin dan mendingin hingga semangat membara untuk membangun budaya baca. Sehingga kelak hanya tinggal cerita dan penghias bibir palsu. Itu hanya sehuah komoditas politik semata. Tentu bukan itu.
Kita memang harus yakin dan percaya bahwa niat untuk mengangun budaya literasi itu bukan sekedar selebrasi atau panas-panas tahi ayam dan sebagai komoditas politik para penguasa. Bukan pula sekedar yakin, tetapi kita harus pula bisa membantu pihak penguasa di Abdya untuk memperkuat komitmen membangun budaya baca karena kita memang membutuhkan kemampuan literasi tersebut. Bantuan yang dimaksud, bisa bantuan material, maupun immaterial.
Sekali lagi, sebagai putra kelahiran Manggeng yang sudah lama meninggalkan kampong halaman, saya ingin berkontribusi untuk bisa ikut serta membangun kecerdasan generasi muda, anak-anak yang ada di kabupaten Aceh Barat Daya. Oleh sebab itu, ada beberapa hal yang harus kita lakukan bersama. Pertama, mungkin ini sudah dimulai, namun tidak salah bila kita ingatkan kembali. Sebagai langkah persiapan dan proses membangun gerakan gemar membaca, kegiatan membangun kesadaran, baik kepala sekolah, guru dan peserta didik harus dilakukan pada awal program ini. Membangun kesadaran baru, dengan melihat dan mencari akar masalah (persoalan) yang menyebabkan rendahnya kulaitas pendidikan ( guru dan siswa) yang selama ini diukur dengan UN dan UKG itu. Ini penting, karena ketika kita ingin mengubah atau ingin melakukan perbaikan, kita tahu apa masalah utama yang harus kita atasi bersama. Kegiatan ini, harus terus dilakukan, walaupun sudah dalam proses lain. Kedua, yang berkaitan dengan aktivitas membangun budaya baca. Kegiatan yang harus dilakukan ( mungkin sudah dilakukan) adalah memulai aktivitas membaca bersama-sama, guru dan peserta didik di awal jam sekolah. Minimal 15 menit atau lebih setiap hari atau sesuai dengan jadwal yang dibuat. Namun akan sangat baik, bila dilakukan setiap hari. Kegiatan ini dimaksudkan untuk membiasakan anak selalu membaca dan menjadikan aktivtas membaca sebagai sebuah kebutuhan dan tradisi. 
Nah, agar kegiatan ini tidak monoton, guru bisa menggunakan kreativitas mereka sebagai tindak lanjut ( follow up) dari aktivitas membaca tersebut. Salah satunya adalah dengan meminta salah satu anak untuk menceritakan kembali di depan kelas apa yang mereka baca. Langkah ini juga menjadi penting dan berguna untuk melatih kemampuan berbicara ( public speaking) dan membangun rasa percaya diri ( self-confidence) anak. Tidak perlu banyak anak yang diminta untuk maju. Bisa saja satu hari satu orang. Jangan lupa, guru harus terbiasa memberikan penghargaan kepada anak. Penghargaan yang sangat murah adalah memberikan pujian kepada anak yang mau maju ke depan. Baru setelah itu, guru juga pada ingkat lanjutan, bisa meminta anak menuliskan kembali apa yang mereka baca. Jadi kegiatan dan hasilnya juga bisa menjadi lebih produktif.
Selanjutnya, sebagai konsekwensi dari upaya membangun gerakan gemar membaca ini, Sekolah atau Pemkab Abdya harus melakukan kegitan monitoring dan evaluasi secara berkala, agar kegiatan ini tidak terhenti di tengah jalan. Lalu, selain itu, tugas sekolah dan pemerintah Kabupaten lewat Dinas Pendidikan kabupaten adalah menyediakan kebijakan dan anggaran yang cukup untuk penyediaan bahan bacaan. Selama ini, penyediaan bahan bacaan berupa buku dan majalah serta surat kabar yang menarik untuk dibaca, sangat diabaikan. Kalau pun membeli buku, atau bacaan, pendekatannya adalah pendekatan proyek. Artinya membeli buku atau bacaan dengan tidak memperhitungkan apakah buku-buku atau bacaan yang dibeli menarik bagi anak atau tidak, yang penting sudah beli buku, soal menarik atau tidak itu soal kedua. Sehingga bisa saja, buku- buku yang sudah dibeli tersebut, menjadi buku pusaka yang tidak boleh dijamah oleh anak atau guru. Ini adalah fenomena yang lazim, bukan hanya di Aceh Barat Daya, tetapi berlaku umum. Oleh sebab itu, sembari membangun gerakan gemar membaca, perilaku buruk dalam penyediaan buku atau bacaan di sekolah juga harus segera diakhiri.
Kita memang membutuhkan perpustakaan yang lengkap, namun untuk program literasi seperti ini, kita tidak wajib membuat perpustakaan yang megah. Cukup dengan menyediakan sejumlah buku/bacaan ( sesuai dengan jumlah anak) di setiap kelas. Jangan lupa diganti setelah habis dibaca oleh anak. Buku/bacaan bisa saja ditukar dengan kelas lain yang belum membacanya. Jadi, tidak perlu banyak sekali. Yang penting kepala sekolah juga tidak boleh selalu berkata tidak ada dana untuk membeli buku atau bacaan.
Tentu banyak cara yang bisa ditempuh oleh Sekolah, Dinas Pendidukan Abdya dan pemkab Abdya untuk menyukseskan program gemar membaca yang mencerdaskan ini. Yang penting kemauan politik (political will) Pemkab harus selalu berada di track yang benar. Insya Allah selalu ada jalan. Saya, tentu saja bisa ikut berpartisipasi dengan media / majalah POTRET dan majalah Anak Cerdas yang saya terbitkan. Mari kita wujudkan dengan komitmen yang tinggi.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)

📚 Artikel Terkait

Ratusan Masyarakat Beutong Ateuh Banggalang Kembali Lakukan Aksi Penolakan Tambang PT. EMM

SEPEDA BARU HARAPANKU

Nyanyian Elang Menjelang Siang

Mengulik Proses dan Protes Jalannya Legislasi di Parlemen

📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Tabrani Yunis

Tabrani Yunis

Bio Narasi Tabrani Yunis, kelahiran Manggeng, Aceh Barat Daya, Aceh berlatarbelakang profesi seorang guru bahasa Inggris, mulai  aktif menulis di media sejak pada medio Juni 1989. Aktif mengisi ruang atau rubrik opini di sejumlah media lokal dan hingga nasional. Menulis artikel, opini, essay dan puisi pilihan hidup yang  kebutuhan hidup sehari-hari. Telah menulis, lebih 1000 tulisan berupa opini, esası dan puisi yang telah publikasikan di berbagai media.Menerbitkan 2 buku, yang merupakan kumpupan tulisan dalam buku Membumikan Literasi dan buku antologi puisi “ Kulukis Namamu di Awan” Aktif terlibat dalam  membangun gerakan literasi anak negeri sejak tahun 1990 terutama di kalangan perempuan dan anak. Bersama mendirikan LP2SM ( Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Sumber daya Manusia) dan di tahun 1993 mendirikan Center for Community Development and Education (CCDE). Lalu, sebagai Direktur CCDE membidani terbitnya Majalah POTRET (2003) dan majalah Anak Cerdas (2013). Kini aktif mengelola Potretonline.com dan majalahanakcerdas.com, sambil mempraktikkan kemampuan entreneurship di POTRET Gallery, Banda Aceh

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya

ABK Itu Berbalut Keistimewaan

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00