POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Menikmati TransKoetaradja Air di Kota Madani

Tabrani YunisOleh Tabrani Yunis
November 1, 2016
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Tabrani Yunis
Warga Kota Banda Aceh yang berdomisili di Banda Aceh
Setiap kali melakukan olah raga pagi mengelilingi jalan lingkar di bawah jembatan Pango hingga ke depan Politeknik Aceh, setiap kali pula mata tertuju pada sebuah fasilitas public, berupa bangunan kecil di pinggir sungai krueng Aceh. Bangunan berwarna merah, berupa tempat untuk duduk beristirahat dan rekreasi tersebut, menarik perhatian dan tanda tanya. Paling tidak, ada beberapa pertanyaan yang mencuat di pikiran. Misalnya, untuk apa bangunan itu dibuat? Siapa yang membangunnya? Lalu, mengapa pula bangunan itu, tidak terawat dan dibiarkan rusak? Pertanyaan ini adalah pertanyaan yang wajar dari orang yang masih dianugerahi rasa ingin tahu, rasa peduli dan merasa prihatin, karena bangunan itu terkesan mubazir. Ya, sia-sia. Karena, pasti untuk membangun bangunan itu banyak mengeluarkan biaya.
Padahal, sesungguhnya, bila kita lihat dari sudut fungsi dan kegunaannya, bangunan itu bisa dijadikan sebagai ruang public (public space) bagi masyarakat kota Banda Aceh yang selama ini sangat minim. Namun, entah memang disengaja atau tidak, bangunan di pinggir kali atau Krueng Aceh itu mulai rusak ditelan masa. Bila kita lihat langsung ke bangunan tersebut, ada bagian-bagian yang sudah rusak. Ibaratnya, bangunan yang tak bertuan. Ya mungkin saja bangunan itu tidak ada pemiliknya, atau ketika dibangun dulu, posisinya ada pada posisi aji mumpung, selagi banyak dana di Aceh, asal bisa dihabiskan, ya bangun saja.
Ternyata, bangunan itu bukan satu-satunya di Krueng Aceh tersebut. Bangunan yang sama ada di pinggir Krueng Aceh dekat kompleks Budha Suchi, Pante Riek. Nasibnya juga sama. Menjadi bangunan yang tersia-sia. Sekali lagi, pertanyaan kita adalah mengapa fasilitas itu disia-siakan? Sebaiknya kita cari tahu, mengapa bangun tersebut terdampar begitu saja.
Nah, melihat nasib kedua bangunan tersebut, mengingatkan penulis pada suasana di sepanjang sungai Musi, Palembang, Sumatera Selatan. Sungai musi yang sangat luas, yang di atasnya berdiri bangunan jembatan Ampera yang megah, dikenal dan selalu memberikan pesona kepada semua orang yang ingin berkunjung ke Palembang. Sungai Musi itu, merupakan anugerah Allah yang sangat besar dan memberikan manfaat bagi umat manusia, ya masyarakat Palembang tersebut. Sungai yang luas tersebut menjadi sumber kehidupan, sumber ekonomi masyarakat di kota empek-empek tersebut. Sungai tersebut menjadi sumber ekonomi dan pariwisata, karena keberadaan sungai itu dimanfaatkan secara optimal oleh masyarakat dan pemerintah kota Palembang tersebut.
Siapa saja, terutama orang-orang yang suka mengamati dinamika kehidupan, sungai Musi dengan jembatan Amperanya itu, pasti menemukan inspirasi dari sungai dan jembatan itu. Ada denyut ekonomi yang sangat berarti di pinggiran sungai tersebut. Cobalah berjalan di daerah pasar 16 yang terletak di pinggir sungai Musi itu. Ada sederetan warung makanan dan minuman yang menawarkan sejumlah makanan dan minuman bagi para pengunjung dan orang-orang yang akan menumpang boat dan getek atau perahu mesin yang menjadi alat trasportasi air yang sangat dinamis dan banyak digunakan masyarakat Palembang tersebut. Di tebing sungai, tempat boat, speed boat, getek dan perahu mesin bersandar, banyak pedagan kecil yang menjajakan dagangan mereka. Sesekali datang pula sekelompok pengamen yang tampil dengan sangat kreatif dan menarik perhatian banyak orang. Mereka mengais rezeki dengan menyanyikan sejumlah lagu yang menghentak-hentak sudut hati para pengunjung. Sementara daya tarik warung-warung terapung di bibir sungai itu, menarik minat orang untuk menikmati sajian makanan di atas warung terapung atau perahu berbentuk rumah yang dijadikan warung. Sambil menikmati makan, kita merasakan goyangan rumah makan, karena ombak di sungai musi tersebut. Selain itu, daya Tarik jembatan Ampera juga tak kalah penting. Orang-orang yang datang ke kota ini, selalu saja ingin mengabadikannya ke dalam photo-photo yang kini kita sebut selfie itu. Sungai Musi dan jembatan Ampera itu, ternyata benar-benar memberikan manfaat dan kesejahteraan bagi masyarakat kota Palembang.
Lalu, apa kaitan antara sungai Musi dengan jembatan Amperanya tersebut dengan kedua bangunan yang sia-sia di Krueng Aeeh tersebut? Tentu akan sangat terkait. Sungai Musi dan jembatan Ampera bisa dijadikan sebagai sumber inspirasi untuk kedua bangunan di pinggiran Krueng Aceh dan kota Banda Aceh pada umumnya. Hal yang pertama untuk dikaitkan adalah agar pemerintah kota Banda Aceh memungsikan kedua bangunan tersebut sehingga memberikan nilai ekonomi bagi pemerintah kota dan juga bagi masyarakat kota Banda Aceh.
Sebagaimana halnya di kota Palembang yang memiliki sungai Musi dan jembatan Ampera, kiranya pemerintah kota Banda Aceh bisa mereplikasi apa yang selama ini dilakukan oleh pemerintah kota Palembang tersebut. Pertama, kedua bangunan yang disia-siakan di desa Pango Raya dan Pante Riek tersebut harus dimanfaatkan agar mendatangkan keuntungan bagi masyarakat dan pemkot Banda Aceh. Kedua, pemnafaatan kedua fasilitas tersebut akan membantu pemerintah dan masyarakat dalam banyak hal. Oleh sebab itu, apa yang dapat dilakukan oleh pemerintah kota Banda Aceh adalah membangun transportasi air di kota Banda Aceh. Bangunan yang ada di desa Pango raya, depan Politeknik Aceh tersebut dapat dijadikan sebagai pelabuhan yang menghubungkan desa Pango Raya dengan Peunayong dan kota Lambaro, Aceh Besar. Untuk membuat kedua bangunan yang disia-siakan itu menjadi bagian dari alat transportasi kota Banda Aceh yang sudah dihantui oleh kemacetan tersebut. Pemerintah kota, dengan dinas perhubungan kota, serta dinas Pariwisata kota Banda Aceh, bekerja sama menyediakan beberapa alat transportasi air, seperti speed boat maupun getek yang bisa melayani masyarakat yang hendak berbelanja atau berpergian ke Peunayong, atau ke Lambaro. Bukan saja untuk berbelanja ke dua pasar tersebut, tetapi juga untuk bisa dijadikan sebagai kegiatan wisata air di kota Banda Aceh. Selain itu, agar masyarakat di kedua belah sisi sungai bisa lebih mudah terhubung, pemerintah kota selayaknya juga membangun beberapa jembatan gantung, yang bisa dilewati oleh pejalan kaki yang akan menyeberang ke sebelah sungai.
Dengan demikian, akan banyak keuntungan yang bisa diraih.paling kurang ada 3 sektor yang akan menggeliat. Pertama, keberadaan alat transportasi sungai tersebut akan membawa dampak yang signifikan untuk menumbuhkan ekonomi kreatif kota Banda Banda Aceh. Misalnya, tumbuhnya kegiatan ekonomi skala kecil di wilayah pelabuhan di desa Pango, Pante Riek, Penayong dan Lambaro. Di wilayah pelabuhan ini akan muncul kegiatan ekonomi dalam bentuk penjualan produk dan pelayanan. Agar denyut ekonomi kian terasa, pemkot bisa menyediakan jasa penyewaan tempat usaha di sekitar pelabuhan yang ada. Kedua, keberadaan transportasi air di kota Madani ini, akan menjadi alternative transportasi masyarakat yang akan pergi dan berbelanja di wilayah Peunayong, Lambaro dan bahkan hubungan ke Pante Riek dan Pango Raya, seperti halnya transportasi bagi mahasiswa Politeknik. Dengan demikian, akan mengurangi sedikit kemacaten kota Banda Aceh, karena penggunaan kenderaan pribadi. Bisa saja, alat trasnportasi ini sebagai wujud penyediaan Trans Koetaraja dua yang jauh lebih murah dibandingkan bus. Keuntungan ketiga adalah keuntungan dunia pariwisata kota Banda Aceh. Tak dapat dipungkiri, bila Pemkot Banda Aceh menyediakan trasnportasi air di Krueng Aceh ini, akan membawa dampak positif bagi pembangunan sector wisata di kota Banda Aceh yang saat ini sangat kurang hiburan dan ruang rekreasi serta minimnya ruang public itu.
Agar transportasi air tidak membawa dampak buruk bagi lingkungan, maka diperlukan kegiatan atau aksi edukasi terhadap masyarakat yang menggunakan jasa transportasi air tersebut, agar tidak mengotori sungai dengan tabiat membuang sampah ke sungai. Begitu pula dengan jumlah alat transportasinya, harus disesuaikan dengan kapasitas sungai, sehingga tidak padat dan merusak lingkungan. Artinya, pemkot dan masyarakat tetap harus bijak terhadap persoalan lingkungan hidup. Selayaknya, hal ini menjadi wacana dan bahan kajian pemerintah kota Madani ini. Semoga

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)

📚 Artikel Terkait

Muntah Oleh Borok Korupsi

Dinsos Aceh Peringati Hari Disabilitas Internasional 2018

Jejak Wangsa Jamalullail: dari Tahta Kesultanan ke Blang Padang

Tsunami Aceh

📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Tabrani Yunis

Tabrani Yunis

Bio Narasi Tabrani Yunis, kelahiran Manggeng, Aceh Barat Daya, Aceh berlatarbelakang profesi seorang guru bahasa Inggris, mulai  aktif menulis di media sejak pada medio Juni 1989. Aktif mengisi ruang atau rubrik opini di sejumlah media lokal dan hingga nasional. Menulis artikel, opini, essay dan puisi pilihan hidup yang  kebutuhan hidup sehari-hari. Telah menulis, lebih 1000 tulisan berupa opini, esası dan puisi yang telah publikasikan di berbagai media.Menerbitkan 2 buku, yang merupakan kumpupan tulisan dalam buku Membumikan Literasi dan buku antologi puisi “ Kulukis Namamu di Awan” Aktif terlibat dalam  membangun gerakan literasi anak negeri sejak tahun 1990 terutama di kalangan perempuan dan anak. Bersama mendirikan LP2SM ( Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Sumber daya Manusia) dan di tahun 1993 mendirikan Center for Community Development and Education (CCDE). Lalu, sebagai Direktur CCDE membidani terbitnya Majalah POTRET (2003) dan majalah Anak Cerdas (2013). Kini aktif mengelola Potretonline.com dan majalahanakcerdas.com, sambil mempraktikkan kemampuan entreneurship di POTRET Gallery, Banda Aceh

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya

Siswa Berkarakter

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00