• Latest
MAJALAH POTRET: 22 Tahun Menjadi Jembatan dalam Memperkaya Literasi Anak Bangsa

80 Tahun Kemerdekaan : Flashback Peran Ulama dan Santri dalam Mempertahankan

Agustus 16, 2025
8a775060-2ffc-40bc-a7c8-7d5eeda6427a

Mengenal Ayu Zhafira, Finalis Miss Norway Berdarah Sumatera Barat

Maret 30, 2026
IMG_0551

Jalan yang Kita Pilih

Maret 30, 2026

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

80 Tahun Kemerdekaan : Flashback Peran Ulama dan Santri dalam Mempertahankan

Mahmudi Hanafiahby Mahmudi Hanafiah
Agustus 16, 2025
Reading Time: 3 mins read
MAJALAH POTRET: 22 Tahun Menjadi Jembatan dalam Memperkaya Literasi Anak Bangsa
590
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh Oleh Mahmudi Hanafiah, S.H., M.H.

“Sekali merdeka, tetap merdeka!” Seruan itu menjadi yel-yel penuh semangat yang menggema dari para pejuang Indonesia dalam mempertahankan kemerdekaan yang telah diperjuangkan dengan darah dan nyawa. Mungkin ada yang bertanya-tanya, jika Indonesia sudah merdeka, mengapa perjuangan masih terus dilanjutkan?

Baca Juga

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026

Jawabannya sederhana, namun penuh makna: mempertahankan jauh lebih sulit dibandingkan merebut. Itulah kenyataan yang dihadapi bangsa Indonesia di masa-masa awal setelah proklamasi kemerdekaan pada 17 Agustus 1945. Indonesia telah menyatakan diri sebagai negara merdeka melalui pidato proklamasi yang dibacakan oleh Soekarno dan didampingi Mohammad Hatta, namun pengakuan dan penguatan terhadap kemerdekaan itu tidak terjadi begitu saja.

Ancaman Pasca-Proklamasi

Baru satu bulan lebih setelah kemerdekaan diproklamasikan, tepatnya pada 29 September 1945, pasukan Sekutu yang dipimpin Inggris tiba di Indonesia. Mereka tidak datang sendiri, tetapi juga membawa NICA (Nederlands-Indies Civil Administration), yang merupakan perwakilan pemerintahan sipil Belanda. Tujuannya jelas: mengembalikan kekuasaan Belanda atas wilayah Nusantara.

Kedatangan mereka kembali memantik api pertempuran. Padahal saat itu, perang dunia telah memasuki babak akhir setelah Amerika Serikat menjatuhkan bom atom di Hiroshima dan Nagasaki, Jepang. Banyak yang berharap bahwa proklamasi kemerdekaan Indonesia akan menjadi penanda awal dari kedamaian, namun kenyataannya, perjuangan justru semakin berat.

Perang Kemerdekaan

Rangkaian pertempuran yang dikenal dengan sebutan Perang Kemerdekaan Indonesia berlangsung dari tahun 1945 hingga 27 Desember 1949, ditandai dengan penyerahan kedaulatan Indonesia oleh Belanda secara resmi. Sepanjang periode tersebut, bangsa Indonesia tidak hanya berjuang di medan perang, tetapi juga di meja perundingan internasional, seperti Konferensi Meja Bundar (KMB) yang digelar di Den Haag pada 23 Agustus hingga 2 November 1949.

Sejumlah pertempuran besar mewarnai masa ini. Mulai dari Pertempuran Surabaya yang melegenda, Pertempuran Ambarawa, Peristiwa Bandung Lautan Api, hingga Agresi Militer Belanda I dan II. Semua itu menunjukkan betapa beratnya perjuangan mempertahankan kemerdekaan yang telah diproklamasikan.

Peran Strategis Ulama dan Santri

Dalam upaya mempertahankan kemerdekaan ini, tidak hanya tentara reguler dan militer profesional yang terlibat. Ulama dan para santri dari berbagai pesantren juga turut ambil bagian penting dalam perjuangan fisik dan spiritual.

Salah satu tokoh sentral adalah KH. Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama dan pimpinan Pondok Pesantren Tebuireng. Beliau menginisiasi Resolusi Jihad yang dideklarasikan pada 22 Oktober 1945, dalam sebuah pertemuan penting para ulama dan pengurus NU dari Jawa dan Madura di Surabaya.

Resolusi Jihad ini menegaskan bahwa membela tanah air dari penjajah adalah kewajiban agama bagi setiap Muslim. Bahkan disebutkan bahwa setiap Muslim yang tinggal dalam radius 94 kilometer dari pusat pertempuran memiliki kewajiban untuk turun langsung dalam pertempuran membela kemerdekaan.

Fatwa tersebut menjadi pemantik semangat perlawanan yang luar biasa. Santri dan masyarakat umum, berbekal semangat jihad dan cinta tanah air, bergabung dalam berbagai laskar perjuangan seperti Hizbullah dan Sabilillah. Mereka berjuang bukan hanya untuk kemerdekaan fisik, tetapi juga demi mempertahankan nilai-nilai agama dan kehormatan bangsa.

Warisan yang Harus Dijaga

Kini, delapan dekade telah berlalu sejak proklamasi kemerdekaan dikumandangkan. Namun, semangat para pejuang, termasuk ulama dan santri yang mengorbankan jiwa dan raga, tidak boleh dilupakan begitu saja. Kemerdekaan yang kita nikmati saat ini adalah amanah dari para pendahulu, yang direbut dan dipertahankan dengan darah dan air mata.

Tugas generasi sekarang bukan lagi mengangkat senjata, tetapi bagaimana mengisi kemerdekaan dengan pembangunan yang bermakna. Menjaga kemerdekaan berarti memperkuat bangsa ini dalam aspek iman dan takwa (IMTAK) serta ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK). Ulama dan santri masa kini diharapkan terus menjadi garda terdepan dalam menjaga moral bangsa dan membimbing masyarakat menuju kemajuan spiritual dan intelektual.

ADVERTISEMENT

Sebagai bangsa yang besar, kita tidak boleh melupakan sejarah. Mengenang perjuangan para ulama dan santri adalah bagian dari cara kita mensyukuri kemerdekaan. Semoga semangat jihad yang dulu dikobarkan tetap menyala dalam bentuk yang relevan untuk masa kini dan masa depan Indonesia.
Wallahu a’lam bish-shawab.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 360x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 318x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 270x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 263x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 200x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Discussion about this post

Next Post

BENGKEL OPINI RAKyat

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com