POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

80 Tahun Kemerdekaan : Flashback Peran Ulama dan Santri dalam Mempertahankan

Mahmudi HanafiahOleh Mahmudi Hanafiah
August 16, 2025
MAJALAH POTRET: 22 Tahun Menjadi Jembatan dalam Memperkaya Literasi Anak Bangsa
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Oleh Mahmudi Hanafiah, S.H., M.H.

“Sekali merdeka, tetap merdeka!” Seruan itu menjadi yel-yel penuh semangat yang menggema dari para pejuang Indonesia dalam mempertahankan kemerdekaan yang telah diperjuangkan dengan darah dan nyawa. Mungkin ada yang bertanya-tanya, jika Indonesia sudah merdeka, mengapa perjuangan masih terus dilanjutkan?

Jawabannya sederhana, namun penuh makna: mempertahankan jauh lebih sulit dibandingkan merebut. Itulah kenyataan yang dihadapi bangsa Indonesia di masa-masa awal setelah proklamasi kemerdekaan pada 17 Agustus 1945. Indonesia telah menyatakan diri sebagai negara merdeka melalui pidato proklamasi yang dibacakan oleh Soekarno dan didampingi Mohammad Hatta, namun pengakuan dan penguatan terhadap kemerdekaan itu tidak terjadi begitu saja.

Ancaman Pasca-Proklamasi

Baru satu bulan lebih setelah kemerdekaan diproklamasikan, tepatnya pada 29 September 1945, pasukan Sekutu yang dipimpin Inggris tiba di Indonesia. Mereka tidak datang sendiri, tetapi juga membawa NICA (Nederlands-Indies Civil Administration), yang merupakan perwakilan pemerintahan sipil Belanda. Tujuannya jelas: mengembalikan kekuasaan Belanda atas wilayah Nusantara.

Kedatangan mereka kembali memantik api pertempuran. Padahal saat itu, perang dunia telah memasuki babak akhir setelah Amerika Serikat menjatuhkan bom atom di Hiroshima dan Nagasaki, Jepang. Banyak yang berharap bahwa proklamasi kemerdekaan Indonesia akan menjadi penanda awal dari kedamaian, namun kenyataannya, perjuangan justru semakin berat.

Perang Kemerdekaan

Rangkaian pertempuran yang dikenal dengan sebutan Perang Kemerdekaan Indonesia berlangsung dari tahun 1945 hingga 27 Desember 1949, ditandai dengan penyerahan kedaulatan Indonesia oleh Belanda secara resmi. Sepanjang periode tersebut, bangsa Indonesia tidak hanya berjuang di medan perang, tetapi juga di meja perundingan internasional, seperti Konferensi Meja Bundar (KMB) yang digelar di Den Haag pada 23 Agustus hingga 2 November 1949.

📚 Artikel Terkait

Nyanyian Terakhir Cenderawasih

Surat Terbuka untuk Presiden Republik Indonesia, Letnan Jenderal (Purn.) Prabowo Subianto

Menulis itu, Lebih Cepat Lebih Nikmat

Kualat Pada Leluhur

Sejumlah pertempuran besar mewarnai masa ini. Mulai dari Pertempuran Surabaya yang melegenda, Pertempuran Ambarawa, Peristiwa Bandung Lautan Api, hingga Agresi Militer Belanda I dan II. Semua itu menunjukkan betapa beratnya perjuangan mempertahankan kemerdekaan yang telah diproklamasikan.

Peran Strategis Ulama dan Santri

Dalam upaya mempertahankan kemerdekaan ini, tidak hanya tentara reguler dan militer profesional yang terlibat. Ulama dan para santri dari berbagai pesantren juga turut ambil bagian penting dalam perjuangan fisik dan spiritual.

Salah satu tokoh sentral adalah KH. Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama dan pimpinan Pondok Pesantren Tebuireng. Beliau menginisiasi Resolusi Jihad yang dideklarasikan pada 22 Oktober 1945, dalam sebuah pertemuan penting para ulama dan pengurus NU dari Jawa dan Madura di Surabaya.

Resolusi Jihad ini menegaskan bahwa membela tanah air dari penjajah adalah kewajiban agama bagi setiap Muslim. Bahkan disebutkan bahwa setiap Muslim yang tinggal dalam radius 94 kilometer dari pusat pertempuran memiliki kewajiban untuk turun langsung dalam pertempuran membela kemerdekaan.

Fatwa tersebut menjadi pemantik semangat perlawanan yang luar biasa. Santri dan masyarakat umum, berbekal semangat jihad dan cinta tanah air, bergabung dalam berbagai laskar perjuangan seperti Hizbullah dan Sabilillah. Mereka berjuang bukan hanya untuk kemerdekaan fisik, tetapi juga demi mempertahankan nilai-nilai agama dan kehormatan bangsa.

Warisan yang Harus Dijaga

Kini, delapan dekade telah berlalu sejak proklamasi kemerdekaan dikumandangkan. Namun, semangat para pejuang, termasuk ulama dan santri yang mengorbankan jiwa dan raga, tidak boleh dilupakan begitu saja. Kemerdekaan yang kita nikmati saat ini adalah amanah dari para pendahulu, yang direbut dan dipertahankan dengan darah dan air mata.

Tugas generasi sekarang bukan lagi mengangkat senjata, tetapi bagaimana mengisi kemerdekaan dengan pembangunan yang bermakna. Menjaga kemerdekaan berarti memperkuat bangsa ini dalam aspek iman dan takwa (IMTAK) serta ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK). Ulama dan santri masa kini diharapkan terus menjadi garda terdepan dalam menjaga moral bangsa dan membimbing masyarakat menuju kemajuan spiritual dan intelektual.

Sebagai bangsa yang besar, kita tidak boleh melupakan sejarah. Mengenang perjuangan para ulama dan santri adalah bagian dari cara kita mensyukuri kemerdekaan. Semoga semangat jihad yang dulu dikobarkan tetap menyala dalam bentuk yang relevan untuk masa kini dan masa depan Indonesia.
Wallahu a’lam bish-shawab.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share3SendShareScanShare
Mahmudi Hanafiah

Mahmudi Hanafiah

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya

BENGKEL OPINI RAKyat

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00