POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Racun Kehidupan: Kenali 9 Sifat Toxic People yang Sering Tak Disadari

Cut Riska SafriantiOleh Cut Riska Safrianti
June 3, 2025
Racun Kehidupan: Kenali 9 Sifat Toxic People yang Sering Tak Disadari
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh: Cut Rizka Safrianti

Ada hal-hal yang mencuri ketenangan, bukan karena suara bising atau hiruk pikuk dunia luar—melainkan karena kehadiran seseorang yang perlahan mengikis cahaya dalam diri, mengaburkan ketenangan bahkan jika kamu dalam sunyi. Kita menyebutnya: toxic people. 

Mereka tidak datang membawa bentakan atau caci maki. Kadang, justru datang dengan perhatian palsu, senyuman manis, atau pujian yang menyelipkan racun sehalus debu.

Di dunia ini, kita sering kali lupa untuk berhenti sejenak dan menyaring ulang siapa yang benar-benar membawa kebaikan dalam hidup. Seringnya kita malah merasa letih tanpa sebab.Seperti ada sesuatu yang menguras tenaga, bukan dari pekerjaan atau perjalanan, tapi dari pertemuan yang seharusnya biasa saja. Seperti ada angin yang tak terlihat, tapi cukup dingin untuk membuat kita menggigil—itulah yang kerap ditinggalkan oleh seorang toxic people.

Tulisan ini bukan untuk menghakimi, tapi mengajakmu mengenali. Barangkali racunnya pernah hinggap di pundakmu. Barangkali, tanpa sadar, kamu pernah menyebarkannya juga. 

Mari kita kenali satu per satu. Perlahan, dengan hati-hati. Agar luka lama tak kembali membuka,  kamu belajar menjaga jarak dari yang semestinya tak terlalu dekat.

1. Selalu Merasa Paling Benar

Toxic people tidak selalu berteriak. Mereka bisa hadir dalam bentuk kalimat lembut yang penuh sindiran. Merasa paling tahu, paling paham, paling suci. Padahal, kebenaran bukan hak satu orang. Tapi mereka memonopolinya seolah dunia tak layak berdiskusi, hanya mendengar.

2. Senang Mengomentari Kehidupan Orang Lain

Mereka akan berkata, “Aku cuma ingin tahu” atau “Hanya penasaran.” Tapi nyatanya, rasa ingin tahu mereka bukan untuk memahami—melainkan untuk membandingkan, mencibir, lalu menyebarkan. Kehidupan orang lain menjadi konsumsi baginya. Seolah-olah semua boleh dibedah tanpa izin.

3. Tidak Tulus dalam Merayakan Kebahagiaan Orang Lain

Ketika kamu berhasil, mereka tersenyum, tapi matanya diam-diam mencari celah. Mereka tidak benar-benar senang. Karena baginya, kebahagiaanmu terasa seperti ancaman atas kekurangannya sendiri.

4. Mengemas Kekerasan Emosional dalam Bungkus Perhatian

Satu kalimat manis bisa diikuti luka yang panjang. Toxic people tahu bagaimana memanipulasi emosi. Mereka menyisipkan rasa bersalah dalam bentuk “aku peduli”, lalu membuatmu merasa tak layak mengambil keputusan tanpa persetujuan mereka.

📚 Artikel Terkait

Serumpun Puisi Zulkifli Hj. Mohd Top@1

LITERASI PAHALA

Raket Bak Pisang (Peurantara Cinta)

Ibnu Sina: Sang Cahaya dari Bukhara

5. Menghindari Tanggung Jawab dan Enggan Meminta Maaf

Mereka tidak pernah salah—selalu ada alasan, pembelaan, atau bahkan kambing hitam. Kata “maaf” terlalu berat untuk keluar dari mulut mereka, meski luka yang mereka tinggalkan tak kasat mata, tapi nyata terasa.

6. Gemar Memanipulasi Fakta

Dalam satu percakapan, kamu yakin dia berkata A. Tapi esoknya, dia bersumpah sudah mengatakan B. Kamu mulai meragukan ingatanmu sendiri. Itulah gaslighting, bentuk manipulasi yang membuat korban merasa gila atas kebenaran yang mereka pegang.

7. Bermain Peran sebagai Korban (Play Victim)

Setiap konflik akan diakhiri dengan air mata atau keluhan bahwa “aku hanya mencoba membantu.” Padahal kamu tahu, dia bukan korban. Padahal kamu tahu, semua ini terjadi karena ulahnya. Namun entah kenapa, kamu merasa bersalah. Toxic People ini bukan hanya bisa membalikkan fakta, tapi juga sangat jago berperan sebagai korban, hingga membuat orang lain iba dan merasa bersalah. Tak ayal, Toxic People ini mampu menggerakkan orang lain untuk meminta maaf meskipun sebenarnya dia-lah yang bersalah.

8. Menciptakan Konflik dari Hal yang Sepele

Toxic people tidak hidup damai dalam ketenangan. Mereka butuh friksi, karena dari sanalah perhatian muncul. Masalah kecil diperbesar. Segelas air tumpah bisa jadi badai. Bagi toxic people, semua hal harus dibahas, ditarik, dan diputar hingga melelahkan. Padahal, tidak semua masalah perlu disulut apalagi diumbar. Hidup terlalu pendek untuk diisi dengan konflik yang dibuat-buat.

9. Tidak Mengerti Batasan Pribadi

Privasi adalah hal yang suci, tapi bagi toxic people, semuanya adalah hak untuk diketahui. Mereka menerobos ruangmu tanpa merasa bersalah, lalu berkata, “Kita kan dekat.” Padahal kedekatan tidak pernah memberi izin untuk melanggar.Padahal, bahkan pintu rumah pun harus diketuk, bukan didobrak.

Lalu, Apa yang Bisa Kita Lakukan?

Kamu berhak memilih ketenangan. Kamu boleh menjaga jarak. Kamu tidak jahat karena tidak ingin terus-menerus menanggung luka yang bukan kamu ciptakan.

Belajar mengenali toxic people bukan agar kamu membenci mereka. Tapi agar kamu tidak kehilangan dirimu sendiri dalam proses mencintai atau mempertahankan hubungan yang sudah seharusnya dilepaskan.

Dan jika suatu hari kamu bercermin dan mendapati sifat-sifat ini tumbuh dalam dirimu—jangan membenci diri sendiri. Tapi tarik napas dalam-dalam, dan mulai perbaikan. Karena kesadaran adalah awal dari penyembuhan.

Semoga kita menjadi ruang yang aman, baik bagi diri sendiri maupun orang lain.

— Banda Aceh, saat malam mulai lelap di pelukan bintang

Bionarasi:

Cut Rizka Safrianti kerap dipanggil Cut Ika adalah seorang ASN, Bhayangkari, dan Founder komunitas kepenulisan online STCI (Sahabat Tulis Cut Ika). Kecintaannya pada literasi membawanya pada berbagai kegiatan literasi, seperti menjadi editor penerbitan Edwrite, menjuarai lomba cipta puisi Nasional, Naskah terpilih sayembara buku Konten Budaya Lokal dari Perpustakaan Wilayah Aceh, naskah terpilih Perpustakaan Nasional RI dengan dibimbing langsung oleh Duta Baca Indonesia, Gol A Gong tahun 2024 danpenulis di berbagai platform digital seperti KBMapp, Goodnovel dan kompasiana. Ia lahir pada tahun 1987 dengan media social: FB, Instagram @cut_ika dan no.hp 081360008040.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 85x dibaca (7 hari)
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 72x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 72x dibaca (7 hari)
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 67x dibaca (7 hari)
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
26 Jan 2026 • 64x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share5SendShareScanShare
Cut Riska Safrianti

Cut Riska Safrianti

Bionarasi: Cut Rizka Safrianti kerap dipanggil Cut Ika adalah seorang ASN, Bhayangkari, dan Founder komunitas kepenulisan online STCI (Sahabat Tulis Cut Ika). Kecintaannya pada literasi membawanya pada berbagai kegiatan literasi, seperti menjadi editor penerbitan Edwrite, menjuarai lomba cipta puisi Nasional, Naskah terpilih sayembara buku Konten Budaya Lokal dari Perpustakaan Wilayah Aceh, naskah terpilih Perpustakaan Nasional RI dengan dibimbing langsung oleh Duta Baca Indonesia, Gol A Gong tahun 2024 dan penulis di berbagai platform digital seperti KBMapp, Goodnovel dan kompasiana. Ia lahir pada tahun 1987 dengan media social: FB, Instagram @cut_ika dan no.hp 081360008040.

Please login to join discussion
#Kriminal

Dunia Penuh Tipu: Menyikapi Realitas Penipuan Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 16, 2026
Esai

Melukis Kata itu Seperti Apa?

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Literasi

Melukis Kata, Mengangkat Fakta

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Artikel

Mengungkap Fakta, Melukis Kata Lewat Story Telling

Oleh Tabrani YunisFebruary 14, 2026
Puisi

Gamang

Oleh Tabrani YunisFebruary 12, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    168 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    161 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
57
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
199
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
93
Postingan Selanjutnya
Dosen Itu Tewas di Tengah Gurun Menuju Rumah Tuhan

Dosen Itu Tewas di Tengah Gurun Menuju Rumah Tuhan

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00