POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Dari Meja Dapur ke Meja Pemerintah: Memahami Krisis Ekonomi di Aceh

Dayan AbdurrahmanOleh Dayan Abdurrahman
May 6, 2025
Tags: #analisis
Sekolah Rakyat
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Dayan Abdurrahman

Hari ini, meja dapur masyarakat Aceh menjadi cermin paling jujur dari wajah ekonomi daerah. Ketika harga beras melambung, cabai merah terasa seperti emas, dan ikan asin menjadi kemewahan tersendiri, maka kita tidak sedang membicarakan sekadar inflasi biasa. Ini krisis yang nyata. Bukan hanya di Jakarta, tetapi juga menyentuh setiap sudut rumah di Aceh. Jika dapur-dapur rakyat mulai sepi dari asap, maka meja-meja pemerintah perlu segera berasap ide dan solusi.

Mengapa Krisis Ini Terjadi?

Pertama-tama, kita perlu jujur bahwa krisis ekonomi di Aceh, bukan semata-mata dampak dari fluktuasi global atau pandemi yang lalu. Faktor eksternal memang berkontribusi, tapi akar krisis ini tumbuh subur dari tanah yang kita rawat sendiri—atau justru yang kita biarkan terlantar. Aceh memiliki kekayaan sumber daya alam, dana otonomi khusus (Otsus), dan peluang investasi yang besar. Namun, mengapa kemiskinan masih tinggi, pengangguran tetap menganga, dan harga kebutuhan pokok melesat tanpa kendali?

Masalah struktural menjadi pangkalnya. Ketergantungan yang berlebihan pada dana pemerintah pusat dan dana Otsus telah membuat banyak sektor ekonomi lokal tidak berkembang secara mandiri. Alih-alih membangun sektor produktif seperti pertanian, perikanan, dan UMKM berbasis lokal, anggaran habis dalam proyek-proyek instan tanpa keberlanjutan. Banyak petani menjerit karena pupuk langka atau mahal, nelayan kehilangan semangat karena harga hasil tangkapan tidak sebanding dengan biaya melaut. Krisis ini adalah hasil dari kebijakan yang salah urus, bukan sekadar takdir.

Siapa yang Bertanggung Jawab?

Tak perlu kita menunjuk satu-dua individu, tapi sistem dan manajemen pemerintahanlah yang perlu dikritisi. Pemerintah daerah, mulai dari eksekutif hingga legislatif, punya tanggung jawab besar dalam mengelola anggaran, merancang kebijakan ekonomi, dan menjaga daya beli masyarakat. Namun, terlalu sering kita jumpai kebijakan yang tidak tepat sasaran, pengeluaran yang boros, dan program yang tidak menyentuh kebutuhan riil rakyat.

Kita tidak bisa terus menyalahkan pusat, karena Aceh telah diberi keistimewaan dan kekhususan. Namun apa yang terjadi dengan dana Otsus yang selama ini digelontorkan? Sudahkah digunakan untuk membangun fondasi ekonomi jangka panjang, atau hanya habis untuk belanja rutin, perjalanan dinas, dan pembangunan fisik yang megah, namun tak berguna?

Para pejabat seolah sibuk dengan angka dan laporan, tetapi lupa bahwa rakyat mengukur keberhasilan dari isi piring, bukan isi dokumen. Ada ironi yang menyakitkan ketika rakyat antre membeli minyak goreng murah, sementara pemerintah sibuk memamerkan pencapaian dalam seminar dan baliho.

Dampaknya: Lebih dari Sekadar Harga Naik

📚 Artikel Terkait

Bila Guru Bersikap Apatis di Era Digital

Shalat Berjamaah dan Pengajian Al-Qur’an: Menuju Aceh yang Lebih Islami dan Bermartabat

The Philosophy of True Wealth

FKIP Unimal, Bentuk Karakter Siswa Melalui Kearifan Lokal Kesusastraan Aceh

Krisis ekonomi bukan hanya soal harga naik. Ini soal daya tahan sosial. Ketika ekonomi rumah tangga rapuh, anak-anak terpaksa putus sekolah, angka kriminalitas meningkat, dan kepercayaan terhadap pemerintah menurun drastis. Lebih parah lagi, krisis ekonomi bisa merusak nilai-nilai sosial dan agama yang selama ini menjadi penopang kehidupan masyarakat Aceh.

Kita mulai melihat bagaimana relasi sosial menjadi tegang: antar pedagang saling curiga, warga saling berebut bantuan, dan muncul kecenderungan saling menyalahkan. Ketika perut kosong, hati mudah panas. Dan di tengah keterjepitan itu, muncul kelompok-kelompok yang mencoba mengambil keuntungan dengan memanipulasi isu agama atau politik demi kepentingan sempit.

Solusi: Kembali ke Akar, Bangun dari Bawah

Solusi bukan terletak pada pinjaman luar negeri atau menunggu bantuan pusat. Aceh harus membangun dari bawah—dari dapur rakyat ke meja perencanaan pemerintah. Manajemen krisis ekonomi harus berbasis pada partisipasi masyarakat, transparansi anggaran, dan penguatan sektor produktif lokal.

Pertama, pemerintah harus mendata ulang potensi ekonomi lokal secara jujur. Tidak hanya dalam bentuk laporan indah, tetapi pemetaan riil yang melibatkan petani, nelayan, pedagang kecil, dan pelaku UMKM. Kedua, kebijakan subsidi dan bantuan harus lebih tepat sasaran. Jangan sampai bantuan sosial jatuh ke tangan mereka yang sebenarnya tidak berhak, sementara rakyat miskin asli justru tak kebagian.

Ketiga, perlu ada reformasi tata kelola dana Otsus. Dana ini seharusnya menjadi investasi jangka panjang, bukan “uang jajan” tahunan. Perlu dikawal oleh publik dan lembaga independen agar penggunaannya benar-benar menyentuh akar persoalan: pendidikan, kesehatan, ketahanan pangan, dan penciptaan lapangan kerja.

Keempat, kembalikan semangat kemandirian ekonomi dalam Islam dan adat Aceh. Islam mengajarkan bahwa tangan di atas lebih mulia daripada tangan di bawah. Maka, pemerintah harus mendorong semangat berwirausaha, koperasi syariah, dan pemberdayaan ekonomi berbasis masjid dan dayah.

Penutup: Suara Dapur adalah Suara Kebenaran

Sudah waktunya suara dapur rakyat dijadikan indikator kebijakan, bukan hanya survei dari lembaga riset atau grafik makroekonomi. Kalau rakyat makan seadanya, maka pejabat juga jangan makan mewah. Kalau rakyat bingung cari minyak goreng, pejabat juga harus malu untuk bicara tanpa solusi.

Aceh bisa bangkit jika pemerintah mau mendengar bukan hanya dari ruang rapat, tapi dari suara pasar, suara nelayan, suara petani, dan tentu saja—suara dari dapur. Karena di sanalah realitas ekonomi berbicara paling jujur.

Dan jika para pemimpin masih abai, maka pertanyaannya bukan lagi “kapan krisis ini berakhir?”, tapi “siapa yang masih peduli pada rakyat?”
Kita berharap masih ada yang peduli, dan kita semua masih punya harapan.

Penulis adalah peminat isu sosial dan pendidikan.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 85x dibaca (7 hari)
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 72x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 72x dibaca (7 hari)
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 67x dibaca (7 hari)
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
26 Jan 2026 • 64x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Tags: #analisis
Dayan Abdurrahman

Dayan Abdurrahman

Bio narasi Saya adalah lulusan pendidikan Bahasa Inggris dengan pengalaman sebagai pendidik, penulis akademik, dan pengembang konten literasi. Saya menyelesaikan studi magister di salah satu universitas ternama di Australia, dan aktif menulis di bidang filsafat pendidikan Islam, pengembangan SDM, serta studi sosial. Saya juga terlibat dalam riset dan penulisan terkait Skill Development Framework dari Australia. Berpengalaman sebagai dosen dan pelatih pendidik, saya memiliki keahlian dalam penulisan ilmiah, editing, serta pendampingan riset. Saat ini, saya terus mengembangkan karya dan membangun jejaring profesional lintas bidang, generasi, serta komunitas akademik global.

Please login to join discussion
#Kriminal

Dunia Penuh Tipu: Menyikapi Realitas Penipuan Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 16, 2026
Esai

Melukis Kata itu Seperti Apa?

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Literasi

Melukis Kata, Mengangkat Fakta

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Artikel

Mengungkap Fakta, Melukis Kata Lewat Story Telling

Oleh Tabrani YunisFebruary 14, 2026
Puisi

Gamang

Oleh Tabrani YunisFebruary 12, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    168 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    161 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
57
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
199
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
93
Postingan Selanjutnya
Kucing Timah

Kucing Timah

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00