POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Apa itu Scopophobia dan Fotofobia?: Sebuah Penjelasan Antropologi Psikologis

Dr. Al Chaidar Abdurrahman Puteh, M.SiOleh Dr. Al Chaidar Abdurrahman Puteh, M.Si
June 7, 2025
What is Scholasticide?
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Dr. Al Chaidar Abdurrahman Puteh, M.Si

Kecemasan atau fobia terhadap kamera atau difoto, yang dikenal sebagai fotofobia (meskipun istilah ini juga bisa merujuk pada kepekaan terhadap cahaya) atau scopophobia (ketakutan akan dilihat atau ditatap), bisa menjadi pengalaman yang sangat mengganggu bagi sebagian orang. Meskipun secara rasional banyak orang berpendapat bahwa batas antara ruang privat dan publik sudah jelas, persepsi individu terhadap privasi seringkali lebih kompleks dan bersifat pribadi.
Fobia kamera bukan sekadar “tidak suka difoto” atau “malu”. Ini adalah kecemasan yang intens dan irasional yang dapat memicu respons fisik dan emosional yang signifikan, seperti detak jantung cepat, berkeringat, gemetar, napas pendek, mual, bahkan serangan panik (Davey 2018). Pemicunya bisa beragam, mulai dari ketakutan akan penilaian orang lain, ketidakpuasan dengan penampilan, hingga pengalaman traumatis di masa lalu yang melibatkan difoto atau direkam (Antony dan Swinson 2017).
Beberapa alasan mengapa seseorang memiliki fobia kamera meliputi: (1) Citra Diri Negatif: Orang yang tidak puas dengan penampilan mereka mungkin merasa sangat cemas saat difoto karena takut melihat diri mereka dalam cahaya yang tidak menyenangkan. (2) Ketakutan akan Penilaian: Ada ketakutan bahwa foto akan diunggah ke media sosial dan menjadi sasaran kritik atau ejekan. (3) Hilangnya Kontrol: Merasa kehilangan kontrol atas citra mereka atau bagaimana gambar mereka akan digunakan setelah diambil. (4) Pengalaman Traumatis: Beberapa orang mungkin memiliki pengalaman negatif di masa lalu yang terkait dengan foto, seperti foto yang disalahgunakan atau menjadi bagian dari intimidasi. (5) Gangguan Kecemasan Sosial: Fobia kamera bisa menjadi bagian dari gangguan kecemasan sosial yang lebih luas, di mana individu merasa takut akan situasi sosial dan diperiksa oleh orang lain (Stein dan Stein 2008).

Persepsi Ruang Privat dan Publik
Meskipun secara hukum dan sosial ada definisi yang jelas tentang ruang privat dan publik, persepsi individu terhadap privasi dapat bervariasi. Apa yang kita anggap sebagai ruang publik yang aman untuk kamera, mungkin dirasakan sebagai invasi privasi oleh orang yang menderita fobia.
Banyak orang dengan tepat mengidentifikasi bahwa toilet atau bilik pengakuan dosa adalah ruang privat meskipun berada di fasilitas publik. Namun, bagi sebagian orang, kamera di tempat-tempat seperti toko swalayan atau kampus bisa terasa seperti pengawasan yang terus-menerus, bahkan jika tidak ada niat buruk. Ini bukan berarti mereka tidak memahami perbedaan antara privat dan publik, tetapi kecemasan mereka memutarbalikkan persepsi tersebut.
Fobia kamera “harus dihapuskan” dan “adalah penyakit psikososial yang berbahaya” menyoroti dampak serius dari kondisi ini. Namun, menganggapnya sebagai sesuatu yang bisa begitu saja dihilangkan mungkin kurang realistis. Fobia adalah kondisi kesehatan mental yang membutuhkan pemahaman dan dukungan, bukan sekadar penolakan atau penghapusan paksa.
Meningkatkan kesadaran masyarakat tentang fobia dan bagaimana hal itu memengaruhi individu dapat membantu mengurangi stigma dan meningkatkan empati. Fobia dapat diobati dengan berbagai terapi, seperti terapi perilaku kognitif (CBT) dan terapi pajanan (exposure therapy). CBT membantu individu mengidentifikasi dan mengubah pola pikir negatif yang terkait dengan fobia, sementara terapi pajanan secara bertahap memperkenalkan individu pada pemicu fobia dalam lingkungan yang aman dan terkontrol (Antony dan Swinson 2017).
Di ruang publik, mungkin ada kebutuhan untuk menyeimbangkan hak untuk mengambil foto dengan kenyamanan individu. Ini bisa berarti adanya zona “bebas foto” di beberapa area atau meningkatkan kesadaran tentang kesopanan saat mengambil foto di sekitar orang lain. Mengakui fobia sebagai kondisi kesehatan mental yang valid dan mempromosikan akses ke layanan kesehatan mental adalah kunci untuk membantu individu yang menderita.
Fotofobia atau scopophobia adalah kondisi nyata yang dapat menyebabkan penderitaan signifikan. Alih-alih menyalahkan individu, pendekatan yang lebih efektif adalah memahami akar penyebab fobia dan menyediakan dukungan serta sumber daya yang diperlukan untuk membantu mereka mengelola dan mengatasinya.

📚 Artikel Terkait

KECERIAAN YANG BERSAHAJA

AKSI! Pemuda Bergerak, Pelestarian Lingkungan

Garis Waktu yang Hilang

Sepeda adalah Kehidupan

Mari kita telaah scopophobia atau fotofobia dari perspektif antropologi psikologi. Bidang ini menjembatani kajian budaya (antropologi) dengan proses mental dan perilaku individu (psikologi), menawarkan pemahaman yang lebih kaya tentang bagaimana pengalaman internal terbentuk oleh konteks sosial dan budaya.

Scopophobia dan Fotofobia dalam Lensa Antropologi Psikologi
Dari sudut pandang antropologi psikologi, scopophobia (ketakutan ekstrem terhadap ditatap atau dilihat) dan fotofobia (ketakutan ekstrem terhadap difoto atau kamera) bukan sekadar masalah individual, melainkan fenomena yang sangat dipengaruhi oleh konstruksi budaya dan pengalaman sosial.
Dalam banyak kebudayaan, identitas seseorang sangat terkait dengan bagaimana mereka dipersepsikan oleh komunitas. Pandangan orang lain, baik secara langsung maupun melalui media seperti foto, dapat menjadi penentu status, reputasi, dan harga diri. Bagi penderita scopophobia, tatapan orang lain atau lensa kamera bisa diinterpretasikan sebagai penilaian, pengawasan, atau bahkan ancaman, yang dapat mengikis rasa aman identitas mereka (Durkheim 1912). Ini bukan hanya tentang rasa malu pribadi, tetapi rasa terancamnya “wajah” atau citra diri yang telah dibangun dalam konteks sosial.
Dalam budaya modern yang didominasi oleh media sosial dan representasi visual, ada tekanan besar untuk menyajikan diri yang “sempurna” atau sesuai harapan. Foto menjadi alat utama representasi ini. Bagi mereka yang fobia, kamera merampas kemampuan mereka untuk mengontrol representasi diri ini. Hasil foto bisa jadi tidak sesuai dengan citra ideal yang ingin mereka tampilkan, atau bahkan menyebar tanpa izin, sehingga memicu kecemasan akan hilangnya agensi atas diri mereka di ranah publik (Goffman 1959).
Di banyak kebudayaan, konsep “mata jahat” (evil eye) masih sangat kuat. Tatapan atau pandangan tertentu diyakini dapat membawa kemalangan atau penyakit. Meskipun fobia kamera modern tidak secara langsung terkait dengan takhyul ini, akar historis ketakutan akan pandangan orang lain bisa jadi memiliki resonansi budaya. Kamera, sebagai “mata” mekanis yang merekam, bisa secara tidak sadar memicu ketidaknyamanan primordial terhadap pengawasan yang merugikan (Malinowski 1922).
Beberapa kebudayaan memiliki tabu atau pantangan terkait pengambilan gambar individu atau objek tertentu, terutama jiwa atau roh. Meskipun masyarakat modern umumnya tidak lagi memegang kepercayaan bahwa foto dapat “mencuri jiwa,” sisa-sisa pemikiran ini mungkin berkontribusi pada ketidaknyamanan bawah sadar terhadap kamera, terutama jika ada riwayat budaya yang kuat terkait hal tersebut.
Panopticon Sosial
Perkembangan teknologi digital dan media sosial telah mengubah sifat “dilihat” dan “difoto”. Dulu, foto adalah peristiwa sesekali; kini, kamera ada di mana-mana, dan gambar bisa menyebar secara instan. Ini menciptakan “panopticon sosial” di mana individu merasa selalu diawasi atau berpotensi terekam (Foucault 1975). Bagi mereka yang rentan, intensitas pengawasan visual ini bisa menjadi sangat membanjiri, memicu rasa cemas yang kronis.
Budaya media sosial juga mempromosikan bentuk narsisme baru dan perbandingan sosial yang konstan. Tekanan untuk terlihat baik di foto, dan melihat foto “sempurna” orang lain, dapat memperburuk ketidakpuasan tubuh dan kecemasan sosial, yang pada gilirannya memperkuat fobia terhadap kamera.
Seseorang mungkin memiliki fobia kamera karena pengalaman traumatis di mana kamera atau foto memainkan peran, seperti difoto dalam situasi memalukan yang kemudian viral, menjadi korban doxing (penyebaran informasi pribadi) melalui foto, atau menjadi target cyberbullying yang melibatkan gambar. Pengalaman-pengalaman ini, meskipun bersifat pribadi, terjadi dalam bingkai budaya digital yang memfasilitasi trauma tersebut.
Lingkungan sosial tertentu mungkin secara tidak langsung memperparah scopophobia atau fotofobia. Misalnya, lingkungan sekolah atau tempat kerja yang sangat kompetitif dan menekankan penampilan, atau keluarga yang terlalu kritis terhadap citra fisik, dapat menanamkan kecemasan yang termanifestasi sebagai fobia terhadap kamera.
Singkatnya, antropologi psikologi melihat scopophobia dan fotofobia sebagai manifestasi dari interaksi kompleks antara psikologi individu (predisposisi genetik, riwayat pribadi) dan lingkungan sosiokultural (norma kecantikan, penggunaan teknologi, sistem kepercayaan). Fobia ini bukan sekadar ketakutan individual yang irasional, tetapi sebuah respons yang terbentuk dan diperkuat oleh cara masyarakat kita terstruktur dan cara kita saling memandang dan merepresentasikan diri.[]

REFERENSI
Antony, Martin M., dan Richard P. Swinson. 2017. The Shyness and Social Anxiety Workbook: Proven, Step-by-Step Techniques for Overcoming Your Fear. Edisi ke-3. New York: Guilford Press.
Davey, Graham. The anxiety epidemic: The causes of our modern-day anxieties. Hachette UK, 2018.
Durkheim, Émile. 1912. The Elementary Forms of the Religious Life. New York: Free Press.
Foucault, Michel. 1975. Discipline and Punish: The Birth of the Prison. New York: Vintage Books.
Goffman, Erving. 1959. The Presentation of Self in Everyday Life. Garden City, N.Y.: Doubleday.
Malinowski, Bronislaw. 1922. Argonauts of the Western Pacific: An Account of Native Enterprise and Adventure in the Archipelagos of Melanesian New Guinea. London: Routledge & Kegan Paul.
Stein, Murray B., dan Dan J. Stein. 2008. Social Anxiety Disorder: From Neurobiology to Treatment. Washington, D.C.: American Psychiatric

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Dr. Al Chaidar Abdurrahman Puteh, M.Si

Dr. Al Chaidar Abdurrahman Puteh, M.Si

Dr. Al Chaidar Abdurrahman Puteh, M.Si., adalah seorang akademisi dan peneliti yang memiliki keahlian di bidang antropologi, dengan fokus utama pada antropologi politik dan agama. Beliau saat ini aktif sebagai dosen di Universitas Malikussaleh, yang berlokasi di Lhokseumawe, Aceh. Selain mengajar, Dr. Al Chaidar juga aktif melakukan penelitian dan seringkali diundang sebagai narasumber atau pengamat untuk berbagai isu sosial, politik, dan keagamaan, terutama yang berkaitan dengan konteks Aceh dan Indonesia secara luas. Kontribusinya dalam pengembangan ilmu antropologi dan pemahaman isu-isu kontemporer di Indonesia sangat signifikan melalui karya-karya ilmiah dan keterlibatannya dalam diskusi publik.

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya
Vicegerents on Earth: Our Divine Responsibility

Vicegerents on Earth: Our Divine Responsibility

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00