HARMONI BENTALA
Kelopak terbuka, menatap heningnya dunia.
Kicau burung bersambut menyapa,
embun pagi seakan membasuh murungnya rasa.
Hangatnya sang surya turut menenangkan jiwa.
Hela napas mengiringi sebagai tanda syukurnya.
Lirikkan mata memandang hamparan warna.
Langkah kecil memulai damainya buana.
Renungan dalam sepi, takjub atas gelaran kayu dan puspa.
Undakan-undakan menantang tubuh berlari dengan segera.
Sejuknya gegana, seperti tak nyata.
Bentangan cakrawala membiru menyenangkan,
bersih, cerah, seolah tak menyerah dengan ancaman.
Gemericik terdengar sepanjang jalan,
jernih bak tak ternoda oleh kekhilafan.
Senandung berayun memaknai ribuan keindahan.
Eloknya butala lambang sayang Sang Pencipta.
Permainya jumantara bukti kasih Yang Maha Kuasa.
Bersimpuh berlega hati atas segala anugerah-Nya,
mengadah beterima kasih untuk menawannya semesta.
Lidah berikrar untuk terus menjaga.
TAMADUN BERPADU
Hasna Mumtaz N
Ramai gelanggang dari jauh terlihat.
Berlari jingkrak terpantau lamat-lamat.
Riuh gaung memecah udara dari timur ke barat.
Sorak-sorai, kekehan menjadi sebuah maklumat.
Sorot pelita semakin gemerlap,
gemuruh nada bak memanggil, menolak lelap.
Khalayak baur-membaur tanpa sekat,
terhanyut dalam meriah pentas adat.
Musik beralun mengawal tungkai yang terhentak.
Antusias mengamati regu yang bertandak.
Lenggak-lenggok menahan diri untuk bertolak.
Ulap-ulap, toleh, berbagai gerak menambah semarak.
Denting gemerincing menggemberikan suasana,
tabuh-tabuhan memacu raga kian bergelora,
dentangan lantang menarik banyak pandangan,
petikkan dan karulungan megah bergiliran.
Bermacam tembang berganti bebas,
berlagu, berdendang dengan tiap-tiap lentingan khas.
Solek rupawan tak lupa mempertegas paras,
sungguh molek tak jenuh merias.
Berlimpah pesona menghiasi nusantara,
berjebah rasam tetap teguh di jagat fana.
Sirnalah tatapan iri dan jemawa,
bersatulah, menuju alam yang baka.
*Penulis merupakan peserta tantangan menulis Mei Sigupai Mambaco, aktivitas saat ini freelance
Diskusi