Esai · Potret Online

Tuli Pada Suara yang Menjatuhkan

Penulis Saiful Bahri
Mei 24, 2026
4 menit baca 27
IMG_1272
Foto / IlustrasiTuli Pada Suara yang Menjatuhkan
Disunting Oleh


 

Oleh Saiful Bahri 

Kadang yang bikin kita gagal bukan jalannya yang berat, tapi suara orang lain yang kita biarkan masuk ke kepala.

Di sebuah kampung, dulu ada lomba aneh. Sejumlah kodok ditantang mendaki bukit yang tinggi, terjal, dan jarang ada yang sanggup sampai puncak. 

Begitu lomba dimulai, dari bawah terdengar suara-suara ramai yang sebenarnya bukan niat jahat. Itu cuma suara “realistis” dari orang-orang yang sudah pernah gagal:  

“Nggak mungkin sampai!”  

“Buang tenaga aja!”  

“Turun sana, sebelum jatuh dan malu!”

Satu per satu peserta menyerah. Mereka dengar, mereka ragu, lalu mereka turun. Logika mereka sederhana: kalau semua orang bilang mustahil, berarti memang mustahil. 

Tapi ada satu kodok yang terus melangkah. Ia tidak peduli kaki lecet, tidak  peduli napas tersengal, tidak peduli dicemooh. Ia terus naik, selangkah demi selangkah.  

Sampai akhirnya, ia berdiri sendiri di puncak.

Ketika ditanya bagaimana caranya, orang baru tahu: kodok itu tuli.  

Ia tidak pernah mendengar semua omongan yang menjatuhkan. Yang ia dengar hanyalah suara napasnya sendiri, suara langkahnya di tanah, dan tujuan yang tidak pernah ia lepas dari kepala.

Cerita ini sederhana. Tapi anehnya, hidup kita sering kali berjalan persis seperti itu.

Suara Itu Datang dari Orang Terdekat

Aku jadi ingat waktu umur  masih 24 tahun, aku  bilang ke salah satu teman di kampung:  

“Aku mau ke Jakarta.”

Jawabannya cepat, seperti sudah disiapkan lama:  

“Ngapain ke Jakarta? Susah cari kerja di sana. Nanti kalah dari transmigran yang didatangkan dari pulau Jawa. Di sini saja, buka warung kecil-kecilan. Aman.”

Nada suaranya bukan mengejek. Itu nada khawatir.  

Tapi kekhawatiran orang lain, kalau kita dengar terus, lama-lama jadi kekhawatiran kita sendiri.

Kalau aku dengarkan omongan itu, mungkin aku  tidak pernah berangkat.  

Mungkin aku  masih duduk di tempat yang sama, meyakinkan diri sendiri kalau hidup ya segini-gini saja   dan pasrah 

Meyakinkan diri bahwa “aman” lebih penting daripada pergi meninggalkan   kampung , pergi merantau yang belum jelas tujuannya. 

Tapi entah kenapa, waktu itu aku  seperti kodok yang tuli.  

Aku  tidak mendengar kata “susah” dan “tidak mungkin”.  

Yang aku  dengar cuma suara di kepala sendiri: kalau tidak nyoba, mana mungkin aku tahu hal yang  sebenar nya

Jakarta tidak Penuh tantangan 

Ternyata Jakarta memang tidak mudah.  

Kerja dicari, tempat tinggal diatur, hidup diputar. Ada bulan di mana uang tinggal cukup buat makan mie dan air galon. Ada malam di mana aku  nanya ke diri sendiri: “ untuk apa aku ke sini?

Tapi justru di situlah aku belajar satu hal: sulit itu bukan bukti kamu salah jalan.  

Sulit itu sering kali tanda kalau kamu  lagi naik. Kalau semua terasa mudah, besar kemungkinan kamu  lagi jalan di tempat.

Orang-orang yang bilang “di Jakarta susah” itu tidak salah. Memang susah.  

Tapi yang mereka lupa bilang adalah: di mana pun susah, kalau kamu tidak bergerak, move  on kata anak  muda sekarang 

Belajar Tuli di Waktu yang Tepat

Sekarang kalau aku  lihat ke belakang, jadi bertambah  bersyukur tidak mendengar omongan yang menjatuhkan/ pesimis   waktu itu.  

Bukan karena omongan teman aku  salah. Sampai sekarang dia masih di kampung, hidupnya tenang, punya keluarga kecil yang hangat. Itu juga pilihan yang valid, dan tepat bagi dia, tapi bukan buat aku, aku punya pilihan sendiri

Tapi hidupku  bukan hidupnya dia.  

Dan hidup lo bukan hidupku.

Masalahnya, kita sering kali membiarkan suara orang lain jadi kompas untuk kita oadahal tidak semestinya begitu, karena setiap punya cara dan pilihan hidup  sendiri

Padahal kompas itu cuma satu: tujuan kamu sendiri.

Belajar tuli bukan berarti jadi sombong dan tidak mau dengar masukan dari orang lain. tapi kita harus  punya filter diri masing masing 

Belajar tuli artinya memilah. Mana suara yang membangun, mana suara yang cuma memproyeksikan ketakutan mereka ke kita.

Penutup

Kadang yang bikin kita nggak sampai ke puncak bukan beratnya jalan, tapi beratnya suara orang lain yang masuk ke kepala kita.  

Kalau tujuannya sudah jelas, belajarlah tuli pada omongan yang nggak membangun.  

Karena di atas sana, yang menunggu bukan cuma pemandangan. Tapi bukti bahwa kamu memang bisa.

Dan bukti itu, nggak akan pernah skamu dapat kalau kamu berhenti di tengah jalan hanya karena mendengar orang lain bilang “turun aja”.

✦ ✦ ✦
Apakah tulisan ini bermanfaat?
Tulisan esai ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi memberikan ruang ekspresi tanpa intervensi isi.
Tentang Penulis
Saiful Bahri
Seorang Motivator dan berdimisili di Jakarta
Diskusi
Upload foto profil (opsional)
Memuat komentar...