Tuli Pada Suara yang Menjatuhkan

Oleh Saiful Bahri
Kadang yang bikin kita gagal bukan jalannya yang berat, tapi suara orang lain yang kita biarkan masuk ke kepala.
Di sebuah kampung, dulu ada lomba aneh. Sejumlah kodok ditantang mendaki bukit yang tinggi, terjal, dan jarang ada yang sanggup sampai puncak.
Begitu lomba dimulai, dari bawah terdengar suara-suara ramai yang sebenarnya bukan niat jahat. Itu cuma suara “realistis” dari orang-orang yang sudah pernah gagal:
“Nggak mungkin sampai!”
“Buang tenaga aja!”
“Turun sana, sebelum jatuh dan malu!”
Satu per satu peserta menyerah. Mereka dengar, mereka ragu, lalu mereka turun. Logika mereka sederhana: kalau semua orang bilang mustahil, berarti memang mustahil.
Tapi ada satu kodok yang terus melangkah. Ia tidak peduli kaki lecet, tidak peduli napas tersengal, tidak peduli dicemooh. Ia terus naik, selangkah demi selangkah.
Sampai akhirnya, ia berdiri sendiri di puncak.
Ketika ditanya bagaimana caranya, orang baru tahu: kodok itu tuli.
Ia tidak pernah mendengar semua omongan yang menjatuhkan. Yang ia dengar hanyalah suara napasnya sendiri, suara langkahnya di tanah, dan tujuan yang tidak pernah ia lepas dari kepala.
Cerita ini sederhana. Tapi anehnya, hidup kita sering kali berjalan persis seperti itu.
Suara Itu Datang dari Orang Terdekat
Aku jadi ingat waktu umur masih 24 tahun, aku bilang ke salah satu teman di kampung:
“Aku mau ke Jakarta.”
Jawabannya cepat, seperti sudah disiapkan lama:
“Ngapain ke Jakarta? Susah cari kerja di sana. Nanti kalah dari transmigran yang didatangkan dari pulau Jawa. Di sini saja, buka warung kecil-kecilan. Aman.”
Nada suaranya bukan mengejek. Itu nada khawatir.
Tapi kekhawatiran orang lain, kalau kita dengar terus, lama-lama jadi kekhawatiran kita sendiri.
Kalau aku dengarkan omongan itu, mungkin aku tidak pernah berangkat.
Mungkin aku masih duduk di tempat yang sama, meyakinkan diri sendiri kalau hidup ya segini-gini saja dan pasrah
Meyakinkan diri bahwa “aman” lebih penting daripada pergi meninggalkan kampung , pergi merantau yang belum jelas tujuannya.
Tapi entah kenapa, waktu itu aku seperti kodok yang tuli.
Aku tidak mendengar kata “susah” dan “tidak mungkin”.
Yang aku dengar cuma suara di kepala sendiri: kalau tidak nyoba, mana mungkin aku tahu hal yang sebenar nya
Jakarta tidak Penuh tantangan
Ternyata Jakarta memang tidak mudah.
Kerja dicari, tempat tinggal diatur, hidup diputar. Ada bulan di mana uang tinggal cukup buat makan mie dan air galon. Ada malam di mana aku nanya ke diri sendiri: “ untuk apa aku ke sini?
Tapi justru di situlah aku belajar satu hal: sulit itu bukan bukti kamu salah jalan.
Sulit itu sering kali tanda kalau kamu lagi naik. Kalau semua terasa mudah, besar kemungkinan kamu lagi jalan di tempat.
Orang-orang yang bilang “di Jakarta susah” itu tidak salah. Memang susah.
Tapi yang mereka lupa bilang adalah: di mana pun susah, kalau kamu tidak bergerak, move on kata anak muda sekarang
Belajar Tuli di Waktu yang Tepat
Sekarang kalau aku lihat ke belakang, jadi bertambah bersyukur tidak mendengar omongan yang menjatuhkan/ pesimis waktu itu.
Bukan karena omongan teman aku salah. Sampai sekarang dia masih di kampung, hidupnya tenang, punya keluarga kecil yang hangat. Itu juga pilihan yang valid, dan tepat bagi dia, tapi bukan buat aku, aku punya pilihan sendiri
Tapi hidupku bukan hidupnya dia.
Dan hidup lo bukan hidupku.
Masalahnya, kita sering kali membiarkan suara orang lain jadi kompas untuk kita oadahal tidak semestinya begitu, karena setiap punya cara dan pilihan hidup sendiri
Padahal kompas itu cuma satu: tujuan kamu sendiri.
Belajar tuli bukan berarti jadi sombong dan tidak mau dengar masukan dari orang lain. tapi kita harus punya filter diri masing masing
Belajar tuli artinya memilah. Mana suara yang membangun, mana suara yang cuma memproyeksikan ketakutan mereka ke kita.
Penutup
Kadang yang bikin kita nggak sampai ke puncak bukan beratnya jalan, tapi beratnya suara orang lain yang masuk ke kepala kita.
Kalau tujuannya sudah jelas, belajarlah tuli pada omongan yang nggak membangun.
Karena di atas sana, yang menunggu bukan cuma pemandangan. Tapi bukti bahwa kamu memang bisa.
Dan bukti itu, nggak akan pernah skamu dapat kalau kamu berhenti di tengah jalan hanya karena mendengar orang lain bilang “turun aja”.












