Oleh: Siti Amelya Neylian
Kelas VIII.1 SMP Negeri 1 Manggeng, Aceh Barat Daya
“Pagi itu harusnya sejuk, tapi lagi-lagi kota ini terasa seperti pesisir tanpa pantai”, gumam seorang anak Perempuan saat melangkah keluar dari apartemen milik keluarganya.
Udara pagi yang seharusnya segar, justru terasa lebih pengap. Bahkan sebelum ia melangkah jauh, keringat sudah muncul di pelipisnya. Jalanan tampak bargetar samar dan angin yang lewat pun tak membawakan kesejukan apa-apa.
Seolah kota ini kehilangan sesuatu dan tidak ada seorangpun yang benar-benar menyadarinya.
Gadis itu bernama Adel. Ia merupakan salah satu siswa yang sedang duduk di bangku sekolah menengah atas. Selama ini Dia merasa kota kelahirannya semakin berubah. Namun setiap kali ingin mengatakannya, tenggorokannya selalu tercekat. Takut terdengar belebihan atau takut hanya dia yang merasakannya.
Di dalam kelas, pelajaran IPA dimulai. Materi berkisar tentang pohon yang dapat menurunkan suhu udara di sekitarnya. Adel terdiam lebih lama dari biasanya. “Pasti ini jawabannya!”, pikirAdel.
Ia lalu menoleh ke Dinda, teman sebangkunya,“Din, nanti sepulang sekolah kita ke taman kota, yuk!”
Dinda mengangkat kepalanya dengan bingung,“Tumben tak seperti Adel biasanya, ya sudah ayuk!”
Dinda tidak mempertanyakan lebih lanjut mengenai ajakan Adel. Dia yang biasanya mengenal Adel sering shopping di mall, tapi kali ini permintaannya agak berbeda.
Akhir-akhir ini, dia sering melihat Adel melamun sendirian. “Apa yang mengusik pikiran Adel?” gumamnya.
Sepulang sekolah Adel dan Dinda pergi ke taman. Adel memilih jalan yang lebih jauh, melewati sudut kota yang keringdan minim pepohonan.
Panasnya seperti menempel di kulit, namun saat mereka tiba di taman, semuanya berubah. Udara terasa lebih ringan dan angin benar-benar nyata, bukan sekader ada.
Adel menatap sekeliling dengan pelan dan bergumam,“Harusnya, bukan di sini aja yang sejuk.” Dinda tertawa kecil,“Hei, ini kota bukan hutan!”
Adel refleks menggeleng,“Bukan soal hutannya, tapi pohonnya, harus kita lestarikan.” Adel menoleh dan menatap Dinda dengan mantap.
Dinda melirik ragu,“Kamu serius?”
Adel terdiam sesaat, lalu mengangguk,“Serius.”
Keesokan harinya di sekolah saat istirahat, Adel menghampiri teman-teman yang sedang bercanda. Ia ikut duduk di dekat mereka, menunggu kesempatan untuk berbicara. Lalu,Ia pelan-pelan membuka pembicaraan tentang idenya menanam pohon di sudut kota yang panas.
Namun, jawaban yang Ia dapatkan jauh dari harapan. “Ribet ah, ngapain sih repot-repot? Pohon bisa tumbuh sendiri kali”, cemooh salah satu temannya disertai tawa yang terbahak-bahak.
“Iya juga sih, aku bercanda doang”, Adel menyeringai mendengar ejekan teman-temannya. Setelah itu, ia mulai menunduk, tangannya memainkan ujung buku berulang kali.“Mungkin aku yang aneh”, gumamnya pelan sambil tertawa kecil, seolah kalimat itu hanya lelucon, padahal tidak.
“Kalau kamu beneran mau, aku ikut”, sambut suara dari belakang. Farel, ketua kelas, suaranya yang jarang terdengar, tiba-tiba memecah kekikukan Adel. Ia pun menoleh dengan kaget. “serius?”
“Dari pada cuma ngomong doang”, jawab Farel dengan dingin tapi cukup meyakinkan dan menyejukkan hati Adel.
Hari itu mereka mulai membawa bibit kecil ke taman. Tanah yang keras, cuaca panas yang membakar kulit dan peluh terus meleleh tanpa sempat diseka, tak dapat memundurkan semangat mereka untuk menanam pohon.
Adel sempat berhenti, sambil menatap bibit kecil di tangannya. “Kalau mati, gimana?”Farel hanya mengangkat bahu. “Ya tanam lagi.” Adel tidak langsung menjawab, tangannya terus cekatan menanam bibit itu dengan pasti.
Waktu pun berlalu, tanpa disangka kegiatan itu mulai ramai setiap harinya. Orang-orang datang menanam pohon dan foto-foto selebaran tersebar dengan julukan ‘Gerakan Daun Kecil’ yang muncul entah dari mana.
Semuanya terasa begitu cepat dan semakin besar sehingga membuat Adel tersenyum lebih sering daripada biasanya. Untuk pertama kalinya Adel merasa mungkin Ia tak aneh.
Namun, sebagaimana cepat datangnya, semuanya sirna seketika.
Beberapa minggu kemudian, taman itu kembali sepi. Adel berdiri di depan sebuah pohon, yang dulu ramai ditanami orang. Kini daunnya mulai menguning, tanahnya retak. Adel berjongkok. Ujung jarinya menyentuh daun kering dan rapuh sambil membayangkan harapan yang pernah Ia rawat sepenuh hati, perlahan mati di depan matanya sendiri.
“Capek”, desahnya. Adel tak menyiram apapun kali ini. Ia memutuskan berjalan pulang. Keesokan harinya, ia tak datang. Hari berikutnya pun sama. Ia meninggalkan semua kenangan yang masih tersisa di ujung hatinya.
Sampai suatu sore, Adel tak sengaja melewati taman itu lagi. Ia tak berniat berhenti, tapi langkahnya melambat. Pohon-pohon itu masih di sana, lebih kering dan lebih sepi. Adel menghela nafas panjang, “Ya sudah udah lah…” bisiknya.
Namun anehnya, kali ini Adel datang dengan membawa air. Bukan karena semangat besar, bukan pula karena ingin mengubah kota.Ia hanya tak tega melihat kegersangan pohon itu dan mulai menyiraminya satu persatu.
Suatu sore, seorang anak mendekat, “Kak, lagi ngapain?”
Adel menjawab dengan lembut, “Sedang menyiram.”
Anak kecil itu bertanya lagi, “Buat apa?”
Adel berhenti sebentar dan terdiam, lalu menjawab pelan,“Biar gak mati pohonnya, kalau berhasil hidup pasti ada manfaatnya untuk ke depan.” Anak itu mengangguk polos walaupun tak mengerti apa yang dimaksud oleh Adel.
“Aku bantu boleh?” tambah anak tersebut dengan mata yang berbinar. Adel tak menjawab dengan kata-kata. Ia bergeser sedikit, memberi tempat dan kemudian secercah senyum kecil muncul di bibirnya.
Bulan pun berganti. awalnya Adel bahkan tidak menyadari perubahan itu. Semuanya terjadi perlahan. Beberapa sudut kota mulai berubah. Pohon-pohon kecil tumbuh dan memberi keteduhan.
Kota itu tak lagi terasa seperti pesisir tanpa pantai.Adel menatap sekelilingnya, Ia tak tahu kapan semuanya mulai berubah. Ia hanya tahu, Ia tak pernah berhenti.
Tanpa Adel sadari, anak kecil itu adalah anak termuda dari walikota setempat. Cerita sederhana bersama adel, Ia bawa pulang, sehingga mengubah cara pandang ayahnya terhadap kota ini.
Sejak saat itu perubahan mulai menjadi bagian dari kota itu sendiri. Peradaban tak lagi merintih dalam pelukan gersang.Pelan-pelan kota mulai tertata, tak sebesar yang diharapkan Adel, tetapi cukup untuk disebut sebagai perubahan.
Siti Amelya Neylian adalah salahsatu siswi sekolah menengah pertama di Kabupaten Aceh Barat Daya., tepatnya di Kecamatan Manggeng. Gadis yang sering dipanggil Amel ini, gemar membaca cerita fantasi yang lucu.Karena kegemarannya itu, Ia mempunyai bakat menulis cerita.
Pada perlombaan cerdas cermat tingkat kabupaten, Ia terpilih sebagai perwakilan sekolah, memegang mata pelajaran Bahasa Indonesia. Amel berhasil meraih juara 2 bersama kedua temannya dalam ajang bergengsi tersebut.
Diskusi