Oleh Zulkifli Abdy
Romantika kehidupan laksana simponi, dimana manakala dawai-dawai jiwa yang kembara dan sanubari di relung sunyi dipetik, dentingannya akan mengeluarkan suara yang indah.
Mengalun mengikuti alur pasang-surut, suka-duka, senang-sedih, riang-gembira, dan terkadang melenakan serta menghanyutkan.
Namun tak jarang pula mesti berakhir dengan prahara yang memusnahkan segala yang pernah ada.
– Bagi yang SENIMAN, ada masanya bersinar dan ada pula saatnya meredup, ada yang konsisten dan terus setia dengan profesi di berbagai bidang seni yang digeluti, seraya terus memperjuangkan adanya perlindungan terhadap hak cipta dan royalty atas karya-karya mereka.
Ada pula yang dimabuk sanjungan dan tenggelam di lautan ketenaran, sehingga menjadi jumawa dan lupa daratan, bahkan ada yang terjerumus di lembah narkoba.
Tak sedikit pula diantara mereka yang di hari tuanya lebih tertarik untuk menggeluti kehidupan sosial, sembari menata diri di majelis ilmu serta kehidupan beragama.
– Bagi yang PENGUSAHA, ada masanya merangkak dan tertatih-tatih, ada pula waktunya menuai sukses, dan tak jarang juga yang berujung pada kebangkrutan.
Di sektor perdagangan masih lemahnya posisi tawar usaha kecil dan menengah, serta masih kuatnya penguasaan pemilik modal untuk melakukan monopoli bahkan oligopoli di berbagai sektor.
Demikian juga yang bergiat di bidang keteknikan, sebutlah bidang konsultan teknik dan usaha bidang konstruksi pada umumnya.
Yang menjadi kendala bukan hanya masalah kompetensi dan professionalisme , melainkan juga masih lemahnya regulasi yang melindungi dan memayunginya.
Sehingga sektor ini kerap menjadi “ranah” di mana terjadinya deviasi yang berpotensi dimanfaatkan oleh pengusaha yang lebih punya akses terhadap pihak otoritas, yang mengakibatkan iklim usaha di bidang ini cendrung masih belum benar-benar “sehat”.
– Bagi yang POLITISI, ada fase membangun basis politik dan mengasah kemampuan serta merancang visi dan misi dalam upaya untuk mencapai tujuan.
Banyak diantara mereka yang meraih sukses, namun tidak sedikit yang belum berhasil dan terus berjuang tidak mengenal putus-asa.
Ada pula politisi yang kehilangan jati-diri, sehingga lupa akan tugas dan fungsi serta rakyat yang diwakilinya.
Juga semakin terlihatnya jarak yang kian menganga antara idealisme dengan pragmatisme, sehingga berpotensi terbuka pula ruang terjadinya conflict of interest, hal mana lebih disebabkan karena faktor kepentingan dan godaan duniawi semata.
– Bagi yang BIROKRAT, yang meniti karir dari jenjang yang paling bawah, tentu pernah mengalami masa-masa yang bersahaja.
Seiring berjalannya waktu dan terus bergulirnya masa pengabdian, sehingga dapat meniti karir dengan baik dan meraih kedudukan yang terhormat.
Namun ada pula yang tergelincir karena menyalahi kewenangan dan mengambil sesuatu yang bukan haknya, sehingga terjebak dalam perilaku koruptif.
– Bagi yang PETANI dan NELAYAN, yang sejatinya sangat diuntungkan oleh tersedianya lahan yang sangat luas dan subur, serta dianugerahi pula dengan iklim tropis yang ideal untuk bercocok tanam serta budi-daya.
Sebagian di antara mereka berhasil menjadi petani dan nelayan yang menuai sukses karena mampu mengelola sumber-daya menjadi potensi yang memiliki nilai ekonomi.
Namun tak sedikit di antara mereka yang gagal karena berbagai faktor; kemarau panjang, varietas tanaman yang tertinggal oleh kemajuan teknologi, subsidi dan afirmasi pemerintah yang masih relatif kecil, tata niaga hasil pertanian yang belum sepenuhnya berpihak pada nasib petani.
Bahkan sebagian dari mereka ada yang menjadi korban tengkulak dan pemilik modal yang hendak menguasai segalanya, mulai dari hulu hingga ke hilir.
Itulah agaknya “balada” kehidupan yang mesti dilakoni setiap orang dengan profesinya, dan masing-masing tentu akan memilih jalannya sendiri sebagai way of life.
Ketika hidup harus memilih, mungkin yang dibutuhkan bukan hanya langkah tindak, melainkan juga langkah bijak dalam menentukan arah dan isyarat kemana langkah hendak diayunkan.
Serta apa saja kiranya yang mesti dipegang teguh, dan apa yang mesti diwaspadai agar terhindar dari prahara kehidupan sehingga akhirnya menemukan jalan menuju kebahagiaan.
Simponi mengalun indah dalam nada-nada sendu yang menghanyutkan, di seberang sana bayang-bayang prahara senatiasa menghantui.
Lalu kita sesungguhnya hendak kemana?
Kita berharap, nyanyian simponi jangan sampai menjadi ironi, dan balada prahara jangan pula sampai memantik petaka.
Wallahu a’lamu bisshawab.
(Z.A)