Sebuah Kematangan Perjalanan Dari Mahdi Idris

Mengenang Sahabat, Penyair dan Guru Yang Pergi Menghadap Ilahi

Oleh Ayi Jufridar

Saya mendapat kehormatan membaca manuskrip buku kumpulan puisi Tgk Mahdi Idris, seorang ulama muda di Aceh Utara yang juga seorang penulis. Buku sehimpunan sajak tersebut diberi judul _Membaca Tanda._

Ini merupakan buku kumpulan sajak keenam dari Mahdi Idris. Sebelumnya, penulis yang juga seorang guru ini sudah menerbitkan _Lagu di Persimpangan Jalan_ (2014), _Kidung Setangkai Sunyi_ (2016), _Kutukan Rencong_ (2018), _Sebatang Pena di Meja Penyair_ (2018), dan _Doa Dalam Tidur_ (2019).

Betapa produktif dan kreatifnya Tgk Mahdi dalam menulis di tengah berbagai kesibukan mengajar dan bekerja di Majelis Permusyarawatan Ulama (MPU) di Aceh Utara. Saya mengagumi konsistensi dan ketekunan tersebut karena tidak banyak penulis yang mampu memelihara semangat dan kreativitas agar selalu berada di level atas. Saya sendiri, sampai 2019, belum memiliki satu pun buku kumpulan sajak.

_Membaca Tanda_ berisi 32 puisi yang dibagi dalam tiga bagian. Bagian pertama yang diberi judul _Keberangkatan_ yang berisi 10 sajak. Bagian kedua berjudul _Membaca Tanda_ yang berisi 10 sajak, dan bagian terakhir berjudul _Sirah Kata_ yang memuat 22 puisi. Pembagian itu terlihat memilah tema-tema puisi yang sesuai dengan judul besar.

Membaca _Membaca Tanda_ seperti menjelajahi kematangan seorang Mahdi Idris dalam merangkai kata menjadi bait-bait puisi yang bukan saja indah, tetapi penuh makna interpretatif yang bisa saja berbeda antara yang dimaksudkan penyair dengan pembaca. Sebab puisi memang terbuka terhadap perbedaan makna sesuai dengan kekayaan batin, kekayaan pengalaman, dan kekayaan wawasan penikmat puisi.

_Membaca Tanda_ adalah sebuah perjalanan baik dari aspek fisik maupun batin sang penyair. Memberi tanda terhadap sebuah momen berkesan, terhadap satu dan beberapa tempat yang berkaitan dengan perjalanan seperti dermaga, peta perjalanan, waktu keberangkatan, jelajah, dan tanda-tanda dari perjalanan bumi yang dekat dengan kegiatan sang penjelajah. Di dalamnya kita juga menemukan tanda-tanda dari teman seperjalanan yang membuat hidup menjadi lebih berwarna.

Sehimpunan sajak ini memang sedang membahas perjalanan dalam makna yang lebih luas dari samudra. Perjalanan yang membutuhkan rencana, persiapan, bekal, dan tujuan—tentu saja. Dalam perjalanan bahkan sebelum memulai perjalanan, kita menemukan banyak tanda untuk melancarkan perjalanan selamat sampai tujuan sebagai pemenang. Tanda-tanda dalam berbagai bentuk yang akan terlihat bagi orang-orang yang mau membaca dengan mata kepala dan mata batin.[]

Exit mobile version