Rekam Jejak Pidie

Cerpen  Mayherlina

Di Bukit Tinggi, Sumatera Barat

 “Ingat Minang, jika aku berangkat ke Mekkah, aku akan membelikan kau kitab gundul agar kau kelak bisa belajar di pesantren.

“Tenang, Angku. Doakan Minang bisa mewujudkan cita-cita, Angku.”

Angku menggandeng tangan Minang berjalan menuju rumah. Angku sangat sayang kepada Minang karena ibu Minang anak perempuan Angku yang paling rajin. Ibu Minang selalu menemani Angku berjualan makanan kecil depan stasiun. Angku menyiapkan celengan dari bambu untuk ke tanah suci. Sebenarnya saudara ibu Minang yang lain sering iri tetapi ibu Minang tetap baik kepada saudaranya karena Angku menasihati untuk selalu akur.

 Saudara ibu Minang akhirnya sadar karena dari enam bersaudara, ekonomi ibu paling mapan. Ibu Minang bekerja sebagai pegawai, ayah bertani sekaligus berdagang. Ayah Minang banyak belajar ilmu dagang dari Angku, kakek Minang. Begitu juga dengan Minang. Setiap perkataan Angku selalu dilaksanakannya. Minang masuk pesantren di pelosok kabupaten. Usulan dari ayah Minang karena tamatannya ada yang sekolah ke Mesir.

Angku tidak jadi memecahkan celengannya untuk berangkat haji. Ada bekas maka buah Angku datang dari tanah seberang. Niatnya akan membawa Angku dan Amai pergi haji. Alhamdulillah usaha dagang makannan asli Sumatera Barat berkembang pesat sampai ke negeri Jiran. Dulu, anak buah Angku membantu membakar tempurung untuk arang sate. Angku kasihan akan nasib Rustam,maka diizinkan Rustam tinggal di rumah.

Angku menemui orang tua Rustam, rupanya anak emak Rustam susun paku. Bapaknya bekerja sebagai tukang angkat barang di pasar. Angku berjanji menyekolahkan Rustam semampu Angku. Rustam sangat rajin bekerja. Sebelum berangkat sekolah sudah disiapkannya bumbu sate. Siang, Rustam membawa ketupat rebus ke kedai kopi di sekitar pasar atau orang yang membeli minta diantar ke rumah.

Angku bahagia. Sepulang haji, Angku mengumpulkan anak-anaknya. Angku ingin tinggal di Aceh. Rindu masa kecil bersama kakaknya yang tinggal satu-satunya. Kebetulan saudara ibu Minang nomor empat tinggal di Tangse, Aceh. Usaha dagang Angku dilanjutkan anak nomor lima bersama suaminya. Angku sudah membagi beberapa rumah kontrakan untuk anak-anaknya satu seorang. Angku tidak ingin sepeninggal dirinya semua memperebutkan harta.  

Angku berpesan rajin-rajin belajar di pesantren. Bila ada waktu, Angku pulang atau anak-anak datang ke Aceh. Angku ingin menghabiskan hidupnya di Aceh serambi Mekah. Angku dengan kakaknya seperti saudara kembar. Mereka berdua saja laki-laki sedang perempuan lima orang. Minang hampir setiap Minggu mengirim kartu pos. Ada saja cerita Minang yang terkadang lucu membuat Angku tertawa. Kakak Engku ikut membaca juga.

Minang sering ke Aceh sekadar bertemu Angku atau liburan bersama keluarga. Setiap datang, Angku menyuruh Minang membaca kitab gundul. Angku ingin tahu seberapa kemampuan memahami tidak sekadar membaca saja. Awalnya Minang malu didengar kakak Angku. Lama-lama jadi tidak masalah. Mereka sering terlibat adu debat. Angku meminta Minang kuliah di Syiah Kuala Banda Aceh, universitas ternama di Aceh.

Minang kuliah selama tiga setengah tahun dengan peringkat Summa cumlaude. Minang melanjutkan kuliah S2 di pulau Jawa. Tahun kedua, Angku meninggal dunia. Angku dimakamkan di Sigli tidak jauh dari pantainya. Adik ibu membeli tanah di Sigli dan membuat rumah di sana. Minang sangat sedih. Minang seperti kehilangan pegangan. Minang sering dinasehati untuk mengikhlaskan kepergian Angku. Angku butuh doa bukan ratapan dan air mata.

Kuburan Angku diberi rumah gadang Minangkabau yang terbuat dari kawat dicat warna merah ciri khas orang kabupaten Agam. Akhirnya Minang wisuda dengan gelar Magister Pendidikan Bahasa Arab. Minang berencana berziarah ke makam Angku. Minang akan berangkat bersama saudara sepupu. Mereka merencanakan tahun baru di Aceh. Minggu pagi, beberapa hari sebelum berangkat, tepat pukul 07.45 tsunami melanda Aceh. Semua panik. Komunikasi terputus, listrik padam, dan gempa datang bersusulan. Kiamat kecil meluluhlantakan Aceh. Keluarga besar Minang dilanda kecemasan. Buyar sudah rencana ziarah. Keesokan harinya adik ibu mengabari mereka berada di Medan.

Ibu mengusulkan untuk pulang ke Padang. Adik ibu akan pulang kalau anak nomor duanya datang dari Binjai. Setahun berlalu. Adik ibu kembali ke Aceh, mereka tinggal di kota Banda Aceh. Keluarga Minang belum ada yang berani ke Sigli. Terlalu pedih untuk menginjakkan kaki di Sigli. Doa tiada henti memunajat kepada Allah SWT. Ibu selalu mengingatkan, harta bisa dicari, nyawa selamat lebih berarti mengalahkan seisi dunia.

Minang bertekad dirinya harus sampai ke Sigli pengobat rindu di hati. Siapa tahu masih bisa dikenali bekas pusara Engku. Saudara ibu Minang menentang keinginan Minang saat Minang mengutarakan niatnya ke Sigli, Aceh. Minang terdiam membisu. Pendapatnya patah seketika tanpa pembelaan. Minang berjalan ke kamar. Dibukanya album cokelat tua. Satu persatu air matanya berlinang. Miang rindu Engku …

Sejak itu Minang tidak pernah mengungkit-ungkit pergi ke Aceh. Minang sering berselancar di dunia maya sekadar mengetahui keadaan Aceh setelah satu setengah tahun terjadinya peristiwa tsunami. Minang sangat senang dengan gambar liputan orang tentang Aceh. Ini mengobati rindu yang terpendam.(*)

 

***Mayherlina, lahir di Bukittinggi, mengajar agama Islam di madrasah, SMP, dan pendidikan Al-Qur’an, berbagi kebaikan dimana saja dan kapan saja.

 

 

Exit mobile version