Menulis, Merawat Ingatan? Mari Petik Beragam Manfaat Menulis

Menulislah agar ingatan terawat

Oleh Tabrani Yunis

Pagi itu Sabtu, tanggal 12 Fabruari 2022. Usai melaksanakan salat subuh, duduk sejenak di sofa sambil membaca-baca pesan dan informasi yang masuk ke HP. Sudah menjadi kebiasaan yang sulit ditinggalkan sekarang. Ya, tangan kita, pikiran kita sudah begitu dekat dengan gadgets. Sudah semakin sulit dipisahkan dan selalu saja seperti merasa kurang bila tidak ada gadgets, berupa handphone, tablet atau Ipad di tangan. Kalau pun pesan whatsapp tidak masuk, tangan akan diarahkan ke email, atau lainnya. Yang penting gadgets memang tidak bisa lepas. Inilah mungkin salah satu penyakit era digital yang menggerogoti jiwa kita. Penyakit yang merupakan syndrom era ini. Ya, sindrom kecanduan gadget ini yang dinamakan nomofobia yang berasal dari istilah “no-mobile-phone-phobia”, yang menyerang banyak orang dari berbagai kalangan dan usia. Hingga tak dapat dipungkiri bahwa sindrom ini pun menjadi hal biasa, kita teri,a apa adanya.

Nah, terlepas apakah kita termasuk dalam kategori atau golongan orang-orang yang mengalami sindrom itu, pagi itu ada diskusi yang sangat menarik penulis dapatkan dari sebuah grup whatsapp yang penulis sendiri adalah satu dari sekian banyak anggotanya. Sebuah grup whatsapp yang diberi nama Krue Seumangat Aceh yang disingkatkan dengan KSA itu. Sebuah grup luar biasa yang beranggotakan orang -orang pilihan. Tidak sembarang orang bisa menjadi anggotanya. Bayangkan saja, kalau seseorang akan bergabung, untuk menjadi anggotanya harus lewat persetujuan dari 7 anggota lainnya. Jadi sangat selektif dan harus mengenal dengan baik dan taat azas. Wajar saja, kalau anggota grup ini adalah kumpulan yang begitu khas,  inklusif, kritis, innovatif dan solutif.  Mengapa demikian? Ya, mereka memiliki latar belakang strata, pendidikan, profesi, pangkat dan jabatan, suku, daerah, wilayah domisili yang lintas pulau bahkan lintas benua. Pokoknya, sangat bervariasi. Ada guru, dosen atau akademisi, praktisi, jurnalis, anggota dewan, rektor hingga profesor, aktivis dan birokrat serta lainna. Bukan hanya di satu tempat, tetapi di tempat-tempat berbeda hingga di belahan dunia sana. Sehingga grup ini sangat produktif dan solutif dalam diskusi. Penulis pun sangat bangga dan merasa sangat berharga menjadi anggota grup ini.

Wajar saja, setiap kali diskusi berlangsung, terasa begitu kaya produktif dan bergizi. Pagi itu, ada banyak hal yang menarik penulis dapatkan. Namun di antara sekian topik yang menarik dan menginspirasi tersebut, penulis sangat tertarik dengan topik menulis, menemukan sesuatu yang sangat menari. Topik itu menambah cerahnya langit pagi yang kala itu langit masih terlihat gelap, walau fajar sudah lebih dahulu menyingsing, ada suasana hangat yang diantarkan di pagi buta. Ada sebuah pesan yang begitu berkesan bagi penulis dari Prof. Dr. Humam Hamid. Pesan itu seperti yang penulis kutip berikut.

Dear Murizal,

Bacaan wellnes dan Aging memerintah kan kita, saya 65 sekarang- untuk mempertahankan memori atau memperlambat berkurangnya daya ingat. Menulis adalah salah satu cara untuk itu. Tepatnya memperlambat datangnya dimensia. Saya pikir menulis baik untuk membuat otak bekerja. Kelemahan saya tidak disiplin, apalgi istiqomah untuk topik khusus. Intinya tulis apa saja yang kita tahu, walaupun sedikit jadi buku okay, tidak  jadi juga okay.Pokoknya prinsip merawat otak itu, use it or loose it.

Pesan itu,  sarat dengan makna akan esensi menulis. Mengapa orang-orang menulis. Apa yang mereka cari atau ingin dapatkan. Sehingga pesan itu menjadi inspirasi bagi penulis, yang mengingatkan penulis pada hikmah atau manfaat menulis. Penulis yang kini berusia 60tahun , masih lebih muda dari Prof Humam Hamid, juga harus merawat ingatan. Maka, tulisan ini juga terdorong oleh pesan itu. Penulis sangat terdorong untuk terus menulis yang bertujuan ganda. Oleh karena itu, penulis juga mencoba menulis, mengumpulkan kenangan, ingatan-ingatan yang tercerai berai diramu dan dijadikan sebuah tulisan. Tulisan itu disamping sebagai bahan dokumentasi peibadi, juga untuk bisa dibaca kelak oleh anak-anak sendiri untuk melatih ingatan mereka. Ya, karena ketika kita mulai terdorong menulis atau bagi yang sudah terbiasa menulis, pertanyaan – pertanyaan mendasar yang seperti untuk apa saya menulis?”. Pertanyaan yang sama sebagai lanjutannya adalah apa yang saya ingin dapatkan atau yang dicari dari kegiatan menulis tersebut?

Jawabannya akan kita dapatkan dengan cara yang berbeda-beda dan tanpa disangkq-sangka pula. Jadi tentu saja jawabannya akan saling berbeda bagi setiap penulis. Setiap orang atau penulis yang akan menulis sebuah tulisan, pasti ada maksud dan tujuan masing-masing.

Maka, dari pertanyaan – pertanyaan itu sesungguhnya sangat membantu kita menemukan berbagai alasan orang menulis, baik alasan internal, maupun eksternal yang bisa memberikan banyak manfaat. Yang jelas, setiap penulis pasti akan memetik banyak manfaat dari kegiatan menulis.  Kita sebagai manusia yang pada umumnya memiliki ketrampilan berbahasa, bukan hanya mendengar, membaca, berbicara, tetapi juga menulis, maka aktivitas menulis menjadi kebutuhan setiap manusia. Ya, kita sebagai manusia, tentu tidak lepas dari persoalan kemanusiaan. Eben E.Siadari dalam bukunya Esensi Praktik Menulis, (2019 halaman 9 memaparkan bahwa, “ Manusia bercermin dari sesamanya. Manusia dapat mencerahkan sesama melalui berbagai segi kemanusiaan yang disajikan dalam bentuk berita atau tulisan yang baik. Manusia akan menjadi inspirasi bagi sesamanya, di tangan para penulis yang merasa memiliki tanggung jawab untuk memberikan gambaran yang lebih baik tentang dunia ini.

Dari statement Eben tersebut kita sebagai  makhluk pelupa, memiliki memory yang terbatas, tentu tidak mampu mengingat segalanya. Oleh sebab itu, dengan menulis kita akan bisa mengingatnya. Kita ikat ingatan tersebut lewat tulisan-tulisan kita. Penulis sendiri yang mulai menggeluti aktivitas menulis di media cetak sejak pertengahan Juni 1989, sudah banyak menikmati hasil atau hikmah menulis tersebut. Kegiatan menulis akan memotivasi kita untuk terus membaca, belajar meningkatkan kapasitas diri. Bagaimana kita akan bisa mendapatkan ide menulis kalau tidak membaca. Maka, karena membaca dan menulis bukan sekadar hobby, tetapi kebutuhan, menulis adalah jalan yang benar. Menulis juga membantu mendorong kita agar terus membaca. Kita akan bisa mengidentifikasi berbagai ragam manfaat menulis, ketika kita sudah mau menulis, banyak menulis dan dipublikasikan di berbagai media. Menulis menjadi aktivitas yang menghidupkan jiwa dan raga. Begitu banyak manfaatnya. Namun, dalam

tulisan ini penulis tidak perlu sebutkan satu per satu hikmah dari aktivitas menulis. Biarlah para pembaca menemukan sendiri ketika sudah memulai aktivitas menulis.

Exit mobile version